Selasa, 08 Juli 2008

JANGAN ADA DENDAM.....

Apakah Anak Akan membalas dendam atas perlakuan Orang tuanya ?

hmmm....pertanyaan ini ditujukan tanteku kepada Papa sewaktu kami nginap dirumahnya. Gampang - susah menjawab pertanyaan tersebut, semua akan berpulang kepada pribadi si Anak.

Minggu lalu saya bertemu dengan bude saya, Beliau bercerita bahwa suaminya memperlakukan anak-anak dengan kasar meskipun hanya cacian tapi itu lebih menyakitkan daripada pukulan. Satu waktu pada saat suaminya dirawah di Rumah sakit, anak-anaknya hanya datang untuk menjenguk, itupun pada hari keberapa setelah suaminya dirawat. Bude sangat sedih melihat kenyataan ini, apakah yang akan terjadi jika semua harta diambil oleh Allah SWT, apakah anak-anak mereka akan membantu Ia dan suaminya jika Ia susah? entahlah, hanya Allah SWT yang memiliki jawaban atas semua pertanyaan-2 tersebut.

Saya ingin bercerita tentang kehidupan keluarga saya.
Saya 4 bersaudara, 2 perempuan dan 2 laki-laki.
Adik perempuan saya saat ini telah bekerja di salah satu perusahaan courier service besar di Indonesia. 1 adik laki laki saya baru lulus S1 dan saat ini masih mencari pekerjaan yang tetap sesuai dengan Pendidikannya (saat ini sudah bekerja freelance di Travel Agent ) dan 1 lagi sedang menyusun Skripsi.

Bapak saya termasuk orang yang keras, pelit dan ringan tangan dan sangat menjunjung tinggi kepentingan keluarganya (keluarga dari Bapak). Ibu saya seorang yang sabar, nerimo, ulet, pekerja keras dan lebih banyak memberikan kebutuhan sehari-hari yang tidak kami dapatkan dari Bapak.

Alhamdullilah saya jarang menerima hukuman ataupun pukulan dari Bapak saya, karena saya lebih bisa mengontrol emosi saya dan juga lebih penurut dibandingkan adik-adik saya.

Adik perempuan saya (W), sejak kecil ia sering menerima hukuman dan pukulan apabila mereka kerap bertengkar
dan ini berlangsung sampai 2 tahun yang lalu. Adik saya memiliki sifat yang keras dan sangat persis dengan Bapak. Saat ini Ia memililih kost dekat kantornya untuk menghindari pertemuan dengan Bapak. Pada saat Bapak di Rawat kami sekeluarga memohon agar Ia dapat menjenguk Bapak di RS dan ini juga kami lakukan pada saat menjelang lebaran idul fitri. 

Adik lelaki saya ( A ), sama seperti saya Ia jarang juga menerima hukuman dari Bapak saya,  karena Ia lebih pendiam dan masa bodoh dengan keadaaan, dan inilah yang membuatnya sering dimarahi Bapak (tanpa pukulan).

Adik lelaki saya yang terakhir (C), seperti W, ia juga sering dimarahi dan dipukul apabila Bapak merasa Benar. Sifatnya hampir sama dengan A, tapi Ia sedikit lebih keras dari A.

Sewaktu saya belum menikah, dengan perlakuan Bapak yang kasar terhadap Ibu  (tidak melulu tapi beberapa kejadian cukup menyakitkan hati), saya sempat berpikir,  jika saya telah mapan saya akan membawa Ibu saya pergi jauh meninggalkan Bapak dan akan membahagiakan Ibu di usia tuanya. Tapi, setelah saya menikah pikiran itu berubah, sekasar apapun Bapak, Ibu tetap mencintainya dan menemaninya dalam suka dan Duka dan saya tidak ingin menghancurkan kebahagian Ibu dengan membawanya pergi dari sisi Bapak.

Pikiran saya untuk tidak menghiraukan Bapak jika Ia tua, juga hilang setelah saya melahirkan Dika, semua berubah, tidak ada sedikitpun dalam ingatan saya untuk meninggalkan Bapak, tidak sekejabpun, tidak  dalam kondisi apapun (papa Dikalah yang membuat saya berpikir untuk lebih bijaksana, untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian, makasih ya pa) .

Yang mengkhawatirkan saya adalah 3 adik saya terutama 2 adik laki-laki saya (kewajiban anak-anak laki-laki terhadap orangtianya tidak akan putus meskipun Ia sudah menikah), apakah mereka memiliki  pemikiran  yang sama dengan saya, apakah mereka bisa legowo melupakan semua perlakuan Bapak seperti halnya saya.  Saya takut benar-benar takut dan Saya hanya bisa berdoa :

Ya Allah, kabulkanlah permintaan kami.
Berikanlah kami kekuatan untuk selalu menyayangi kedua orangtua kami seperti halnya Engkau menyayangi kami.


Semoga Bapak bisa lebih bijaksana dalam bersikap, lebih  sabar, lebih mencintai keluarga ( bahwa anak-anak adalah bagian dari kehidupan Bapak, bahwa anak-anak sudah dewasa dan mereka sudah bisa diajak bicara dari hati ke hati) dan semoga Bapak selalu diberikan kesehatan serta berada dalam lindungan Allah SWT.

Semoga adik-adik saya memiliki hati yang luas untuk memaafkan Bapak, semoga Allah menghapus dendam dan pikiran jelak mereka terhadap Bapak.

Amin.

Note : menjelang ultah Bapak yang ke-50 (14 Juli 2008)





14 komentar:

  1. kalau dipikir2, cobaan hidup itu bisa jadi kemewahan hidup juga ya mbak. Buktinya, dikau bisa merasakan ikhlas melepas dendam, bisa merasakan tulus menyayangi ortu, bukan sekedar karena nasib membuat mbak lahir dari ortu tsb. Gak banyak loh yg bisa punya kesempatan merasakan itu semua. Thanks ya sharingnya mbak, insyaAllah jadi pembelajaran buat saya juga.

    BalasHapus
  2. amien, semoga dibukakan pintu hati mereka ya mba' ....
    sepertinya hal ini juga berlaku tuk aku mba' ... bapakku tuh keras banget pe kalo ngomong biasa aja suaranya dah menggelegar, palagi kalo lagi marah .... wah ... pernah juga slek ma beliau tapi ya seiring waktu akan luluh dengan sendirinya, akunya minta maaf gitu juga dengan bokap ... biar gimana tetep beliau adalah bapak kandung kita satu-satunya mba' ... btw Happy Birthday tuk bapaknya mba' yuni yaaa ... koq sama ma bokap hari ini beliau ultah ... duh jadi kangen nih .... hehehe ....

    BalasHapus
  3. semoga adik2mu cepet sadar ya Shin...
    terkadang ortu tuh melakukan sesuatu denagn alasan yg kita gak tau...
    baru tau setelah berpuluh taun kemudian...

    BalasHapus
  4. Aku yakin kok makin dewasa mereka akan 'ngrumangsani' atau akan jadi tahu kenapa dulu Bapak bersikap seperti itu. TFS yah... jadi inget ortu dirumah :((

    BalasHapus
  5. TFS ya.... menjadi dewasa itu anugerah yg besar ya...

    BalasHapus
  6. Ternyata menjadi seorang ibu memang telah merubah pola berpikir kita ya mbak...Dulu karena ngga deket ke bapak aku suka ngerasa malez klo ntar musti ngurusin beliau.Tapi pas dah nikah n punya anak semua pikiran itu hilang berganti keinginan untuk membahagiakan beliau. Kedewasaan itu ternyata adalah proses panjang ...

    BalasHapus
  7. TFS.... kondisinya mirip kok sama keluargaku... cuma bapakku lebih lembut sedikit...

    sabar ya mbak...

    BalasHapus
  8. TFS jg mba... ternyata yg namanya bapak itu dimana2 emang ga jauh2 beda yah.. 'keras', tp mungkin bapakku ga sekeras bapak mba yuni siy krn ga pernah main pukul... Tp jadi pembelajaran siy mba, dalam hatiku ud janji ga bakalan berlaku/ bersikap/ bertutur kata yg sama kepada anakku... Hatimu seluas samudra mba yuuu... hallaaahh... tp bener koq... It beautifull to forgive...

    BalasHapus
  9. amin, smoga dikabulkan smua doanya
    selamat menjelang ultah buat Bapak

    BalasHapus
  10. amin, smoga dikabulkan smua doanya
    selamat menjelang ultah buat Bapak

    BalasHapus
  11. sabar dan terus berdoa ya mbak.. semoga ayah dan adik2nya mbak Shinta juga diberikan kelembutan hati untuk saling memaafkan.

    BalasHapus
  12. Insya Allah semua akan baik2 aja. Gak ada keluarga yang sempurna. Juga keluargaku. Tapi hidayah akan datang kalau Allah menghendaki. Ada postingku yang agak mirip di http://estihandayani.blogspot.com/2006_03_01_archive.html

    BalasHapus