Selasa, 31 Januari 2012

Si 35


Wah ga terasa, tahun ini usiaku akan 35 tahun, ini batas aman untuk memiliki anak kembali.

Ga terasa juga, hampir 1 tahun sejak aku harus kuretase karena janinnya Blighted Ovum.

Bila hingga akhir tahun ini kami belum juga berikan rezeki memiliki anak, saya n papih akan menunggu hingga 2-3 tahun lagi.

Tapi bila dalam 2-3 tahun lagi belum juga mendapat karunia ini, Alhamdullilah kami berdua sepakat untuk mengadopsi bayi.

Jangka waktu ini tidaklah mutlak, kalo kami diberikan kesempatan mengadopsi bayi lebih cepat, kami akan sangat bersyukur.

Mohon doanya ya temans


~selalu ada warna yang indah diakhir pelangi~

Jumat, 27 Januari 2012

Ikut GT lagi










hmm ini GT keberapa ya ?
GT ke-4 buat Dika n saya

Bareng Izan dan Rita kami ke rumah bu Ina di Pesanggarahan bertemu dengan om Toge.  

Meski gak ada problem serius tapi kami merasa berdiskusi langsung (temu muka) dengan pakar yang berkompeten soal pola asuh sangat baik buat kami.

Alhamdullilah dapat banyak masukan gimana handle dika dan menghadapi diri kami sendiri sebagai orang tua.

Diskusinya santai sih, sambil ngobrol dan duduk di lantai
ada adegan peluk kunci karena dia tantrum dan hendak pukul eyang.






Kamis, 26 Januari 2012

Teman Sejati


Teman itu datang dan pergi
Tapi
Teman Sejati akan selalu ada dalam kehidupanmu
Meski Ia lama tak menghubungimu
Meski Ia tak membalas telponmu
Meski kadang Ia terlupa padamu ketika Ia dalam kesenangan
Meski kadang Ia kembali lagi padamu ketika Ia dalam kesusahan

Teman sejati tak mengenal waktu
Kadang ia datang dan pergi sesuka hatinya
Tapi Ia akan selalu ada di hatimu

Selamat datang teman
Kami menyambutmu... dengan segala kasih yang kami miliki tanpa harus bertanya mengapa dulu kau meninggalkan kami.


~selalu ada warna yang indah diakhir pelangi~

Dika n Segala Kelebihannya


God always work in a mysterious way

Yaps itu yang selalu terngiang2 ketika aku sedang gundah gulana.
Tuhan pasti memiliki rencana buat kehidupanku.

Ketika sebagian orang dibumi ini memiliki resolusi pada tahun ini, aku gak memiliki resolusi seperti teman2ku. Resolusiku hanya 'Andika'.

Sejak kami merencanakan menikah 10 tahun yll, ga pernah terpikir bahwa kami nanti akan diberikan seorang Anak yang Berbeda.

Itulah berkah yang Allah berikan pada kehidupan kami, Andika.

Ketika ia berusia 3 tahun, alarmku sudah berbunyi bahwa dia berbeda, tapi keluarga selalu meyakinkanku bahwa dika baik-baik saja, dan sayangnya aku gak segera bertindak.

Di usia 5 tahun, aku semakin gerah, semakin khawatir akan keadaan dika, di usia ini Dia belum bisa berkomunikasi dengan jelas, kosa kata terlalu sedikit, padahal Ia juga sudah bersekolah.

Akhirnya, sebuah keputusan di buat, kami mendatangi seorang dsa tumbang di poli RSCM, test denver dilakukan dan DSA menyatakan bahwa kemampuan wicara dika seperti anak 3 tahun, meski perilaku dika gak ada masalah samasekali, jadi kita butuh test setelah itu baru lanjut apa terapi yang dibutuhkan.

Test Pendengaran
Kami lakukan di klinik Kasoem, hasilnya BERA dan OAE 70db, Audiometri 40db.

Dr THT belum menjatuhkan diagnosis apa2 kepada dika karena test BERA dilakukan ketika telinga kotor, test OAE dilakukan ketika dika tidak tertidur dan test Audiometri dilakukan dengan banyak orang disekeliling dika (tidak fokus).

Beliau info, dari assessment dengan dika n ortu, beliau rasa belum perlu ada alat bantu, coba stimulasi terus dan kembali 6 bulan kemudian.

Pertemuan dengan Psikolog

Tempalate dika yang males dan fisik yang gak oke, mungkin berpengaruh pada kemampuan dika berbicara. Kami disuggest agar dika banyak melakukan olahraga yang bikin dika capek dan periksa organ wicara dika ke ahlinya

Pertemuan dengan Psikiater di Klinik Tumbuh Kembang

Hasil assessment, organ wicara dika tidak ada masalah, tidak ada gangguan, seharusnya dika bisa bicara secara normal. Kendalanya, template yang males dan gak pede bikin dia jadi malas berbicara. Bisa dibantu dengan terapi.

Sejak April 2010, dika menjalani terapi selama 4x1jam seminggu dan April 2011, terapi kami rubah menjadi 3x1jam seminggu.

Banyak sekali progressnya, kemampuan komunikasi meningkat, gestur juga udah mulai berubah, pede, semakin fokus. Banyak catatan yang diberikan terapisnya.

Sudah hampir 2 tahun, saya merasa tidak ada kendala dengan komunikasi dika, hanya verbalnya saja yang belum jelas untuk kata-kata tertentu. Tapi saya belum puas, saya masih bingung dengan kondisi dika, bukan soal wicaranya saja tapi juga kognitif dika.

Untuk wicara, saya datangi dr. Tht di RS proklamasi, agak sedikit salah paham dg dika pas kami datang ke dr ini. Iklan saya, dr akan periksa kuping, ternyata dr. u periksa mulut dika. Diagnosis dari belio adalah Tounge Tie, dan langkah selanjutnya adalah operasi, dan diminta untuk mengulangi Test BERA (Saya singkirkan kemungkinan utk urus Tounge Tienya, saya akan konsen ke BERA dika)

Sambil menunggu jadwal BERA, saya datangi drg untuk memperiksa gigi dika yg sudah rusak dan goyang. Kunjungan 1 sukses, kunjungan kedua ketika akan eksekusi si gigi yang goyang dika menolak.

Drg mengatakan bahwa dia kesulitan berkomunikasi secara verbal dengan dika, apa yang dia terangkan ke dika mentok karena dika memiliki daya tangkap yang rendah.

Dueeeeng berasa dipukul palu.
Biasanya saya cukup kuat untuk menerima vonis apapun dari orang lain kepada dia, tapi entah kenapa tidak pada hari itu.

Dan sayapun menjadi Galau dan Blank seketika
Ternyata saya kecolongan lagi, saya jadi berasa Ibu yang paling jahat.
Saya belum membantu dika secara maksimal untuk kognitifnya
Saya masih berharap bahwa dengan apa yang telah saya lakukan (les/terapi/stimulasi) telah cukup membantu dika.

Sempet kehilangan arah sejenak setelah akhirnya diangkat dari kegelapan oleh seorang teman yang sangat mensupportku.

Sekarang yang akan saya lakukan adalah :

*menstimulasi lebih banyak ke Dika tanpa ia sadari kalo ia sedang belajar
*memeriksakan kondisi ia ke seorang psikolog yang menangani anak2 gifted dengan learning disability
*melanjutkan Test pendengaran
*konsul dengan dr. Rehab Medik
*mencari SD yang dapat menerima kondisi Dika

Semoga, saya dapat maksimal memberikan penanganan kepada Dika
Semoga, saya akan selalu kuat dan sehat mendampingi Dika
Semoga, Dika semakin berkembang sesuai yang Ia mau (bukan yang kami mau)

Sehat terus ya Nak, maaf bila mamihmu ini belum maksimal mendampingimu.


~selalu ada warna yang indah diakhir pelangi~

Kamis, 19 Januari 2012

Empty


Feeling so empty
I don't know why
Need more time to be recovery


tentang kosong
1. kosong dlm KBBI (kamus besar bahasa indonesia) th 2008 bermakna tdk berisi, berongga, tdk bergairah, hampa, tdk mengandung arti. #gestwit

2. kosong merupakan kepedihan hati, hsl persekongkolan antara perasaan, fantasi, dan harapan yg berakar pd kecemasan yg melemahkan.#gestwit

3. kosong dlm kaidah ilmu perilaku mengacu pd pekatnya larutan emosi negatif yg memicu rasa tdk berdaya krn kehilangan arah kiblat.
#gestwit

4. kosong biasanya menunjukkan pengalaman depresi, akibat kesulitan yg
bertumpuk, bertubi-tubi, berlarut-larut, shg tdk terkendali. #gestwit

5. kosong potensial tjd pd org yg sifat dasarnya cenderung depresif,
entah berupa bth menjamin keamanan, ataupun bth mengendalikan. #gestwit

6. kosong juga dpt tjd akibat konsep diri yg rapuh-destruktif krn penanaman nilai moral yg scr sistematis memasung dan memperbudak. #gestwit

7. kosong perlu dipahami sbg gangguan mental yg serius, shg sebaiknya jg diperhatikan scr serius, agar risikonya bisa diantisipasi. #gestwit

8. kosong dpt dikelola dg teknik lokalisasi, bila sgup hidup sbg aktor yg menampilkan karakter “kosong” itu hanya saat ‘jam kerja’. #gestwit

9. kosong sebaiknya dituntaskan, dg cara merenovasi konsep diri yg terlanjur rapuh-destruktif itu, agar bisa mjd sehat-konstruktif.
#gestwit

*thanks for share this note


Powered by Telkomsel BlackBerry®

{Story}-Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan

Nice story...dari berbagai milis
Tuk mengingatkan, tuk memberiku semangat untuk tidak menyerah pada keadaan.

Dika,
Mamih love you

*******************************************

Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 13 Januari 2012

{Dika} - Ke Dokter Gigi






Benernya udah di jadwalin dari kapan tau mo ke drg tapi batal terus karena urusan papih mamih ternyata ga bisa diganggu gugat waktunya.

Akhirnya, mumpung mamih papih ga ada acara keluar kota, Jum'at ini dibela-belain untuk ke drg yang direkomen sama Risma.

Dari beberapa hari dah sempet iklan ke dika bahwa kita akan ke drg dan apa aja yang akan dilalui dika disana, kasih liat gambar2 aktivitas di ruang drg, dan apa aja yg harus dika lakukan disana.

Sampai di Harkit jam 9 kurang, isi form karena pasien baru (charge 10.000 untuk kartu) dan bayar Adm Rp 15.000. Trus naik ke lt 2 ke poli gigi.

Ternyata drg. Kiki sedang ada operasi, dan kami diminta tunggu sekitar 1jaman atau ganti dokter lain. Oh nooo gak maulah ganti drg lain karena bela-belain ke Harkit khan mo ketemu drg. Kiki.

Di ruang tunggu, ada banner tentang poli gigi dan ada gambar anak yang di periksa giginya dan dika bilang, nanti aku begini ya mih... ?.

Dika ga sabar nunggu panggilan, dah bolbal aja bilang, abis ini aku ya mih... dijawab sendiri .. ya bukaan ( mamih ma papih liat2an sambil senyum2)

Akhirnya tiba juga waktu dika untuk masuk ruang drg, masuk sih gagah banget, begitu liat ruangannya, mundur perlahan.

Drg kiki keluar dari ruangannya, ramah banget menyapa dika, tanya2 soal usia, sekolah dll. Dika masih mengkeret aja, kekeuh gak mau duduk di kursi, di ajak ngobrol sama drg kiki dan perawatnya, dikasih liat peralatannya, boleh nyalain-matiin lampu. Tetep masih gak mau juga. :D

Mamih sempet paksa dan ingetin soal kesepakatan kami ke dika, tapi drg kiki bilang, saya ga pernah maksa anak untuk mau loh bu, jadi ibu jangan paksa ya, biarin dia mau dengan sukarela naik ke kursi ini... Jadi saya akan tungguin sampai dika mau.

Trus, dia bilang : Dika, tante cuma mo itung gigi kamu loh, gak diapa-2in kok, ato dika mau liat temennya dulu diliat giginya, setelah itu baru dika coba lagi ya ?

Dika : angguk-angguk

Begitu luna (pasien berikutnya) masuk, dia khusuk liat proses pemeriksaan, gigi dibersihkan dan penambalan gigi. Luna pinter sekali, mangap tanpa diminta dan kooperatif sekali.

Liat temennya asik2 aja, begitu luna selesai dika ditanya lagi, gimana dah mau duduk disini ? Dika angguk2 .

Duduklah dia dan mulai di cek, tanpa paksaan samsek, malah narsis minta dipoto sama papih hehehe

Begitu selesai periksa, drg kiki bilang kalo gigi gerahamnya udah cukup rusak jadi harus ditambal. Gigi depan atas bawah ada 4 yang harus dicabut karena sudah ada akar baru.

Untuk pengerjaan, kasih waktu 2x kunjungan lagi, kunjungan pertama kalo dia kooperatif bisa dilakukan, bila belum juga bisa di kunjungan ketiga.

Saat ini, saya perlu membangun kepercayaan dika kepada drg kiki, dika harus nyaman sama saya dan sukarela untuk dibereskan giginya. Jadi memang butuh proses ya bu.

Wooow, saya bener2 puas sekali hari ini, beda sekali dengan drg yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Udah mahal, dika ga berhasil berdamai sama si drg.

Selain di harkit, drg kiki praktek di hermina daan mogot dan apotik kimia farma slipi.

Biaya konsul hari ini Rp. 100.000

Selasa, 10 Januari 2012

@Padang






Hoaaaam dah malam yaaa
Baru abis ngobs tentang rencana pertemuan besok sama bosku diteras kamar

Bentaran siiih
Tapi setelah selesai ngobs, masih harus urus2 bahan presentasi besok
Gpp deh daripada besok pagi gedabrukan

Peruuuut kenyaaang banget, tadi makan di tepi laut diiringi deburan ombak yang kuencaaang banget bikin kaget2 pas baru2 denger

Eh melilit juga nih, tadi abis makmal
Ngerjain presentasi dulu sama temenku sambil minum juice terong pirus
Terlalu asam sepertinya

Posting ga penting nih,
Intinya sih lagi coba kirim posting pake email
Huhehehehe

Rabu, 04 Januari 2012

1 Tahun Sekolah C3S - Ulang Tahun Pasya




Alhamdullilah Aktivitas Bermain+belajar sekolah C3S ( Cipinang Cempedak Community School) sudah berlangsung selama setahun. Dan Alhamdullilah saya diberikan kesempatan untuk mengikuti perkembangan anak-anak yang belajar di Sekolah ini dari awal.

duh saya benar-benar terharu melihat Banyu, Pasya, Kei, Hanna bertumbuh begitu gembira di sekolah ini.

Banyu yang semula tidak mau masuk ke rumah buoke
Pasya yang tadinya selalu menangis setiap terdengar suara bising anak-anak
Kei+Hana yang jatuh cinta dengan skul ini
Bu guru Tati dan bu Heni yang bener-bener jadi guru buat mereka

Duh, beneran deh saya gak bisa menggambarkan tentang bahagia saya melihat semua kesenangan dan perkembangan yang terjadi selama setahun kemarin.

Semoga sekolah ini selalu menjaid tempat yang asik buat para penghuninya.

Terima kasih udah beberapa kali ijinin Dika ikut nyicip belajar dan makan bersama.

oiya, acara syukuran kemarin sekaligun merayakan ulang tahun pasya ke -7

Hepi besdei ya Pasya... semoga selalu bertumbuh dengan sehat dan hepi ya nak






















Senin, 02 Januari 2012

{Liburan} - Parang Tritis, Yogyakarta

01-12-2011

Setelah puas di Taman Pintar, kami lanjut ke Parang Tritis, ini kali pertama Dika ke Pantai, mo liat sejauh mana reaksi Dia kalo liat air yang melimpah ruah

Sebelum ke lokasi, kami mampir ke rumah makan Numani, di Jl. parangtritis, langganan papih kalo bawa rombongan tour.

begitu sampai, seperti yang diperkirakan, dika langsung heboh minta naik Andong, yowis kita sewa 2 Andong dengan biaya Rp. 20.000/pantai, kemarin kami ambil paket sampai pantai paling ujung dan bayar Rp. 50.000/andong.

Cuacanya puanaaas sekali siang itu...
Sekitar 2,5 jam di Pantai, kami kembali ke Jogjakarta, makan Bakmi Jogja dan menuju Pondok Villa Hotel.

Sengaja kami pilih tempat ini karena lokasinya emang agak kedalam, jadi ndak berisik sama suara lalin dan tempatnya emang asik buat Istirahat.

Malamnya, kami gotong Dika ke Mobil karena mo nongkrong di alun-alun yogya dan makan Gudeg sambil cari Laundry yang bisa express.





















Holiday}- Gn Kidul - Taman Pintar Jogja




29 November yang lalu, Kami sekeluarga berkesempatan untuk Pulkam ke Gn. Kidul dalam rangka kunjungan silahturahmi dan menginformasikan rencana pernikahan adiknya papih pada Pebruari 2012.

Berangkat bawa mobil dari Jakarta, cukup sempit :D untuk keluarga besar kami, namun niat tulus untuk bertemu mbah dan keluarga disana gak mengurangi kesempitan dimobil... hehehe

Biasanya pake bis ke Gn. Kidul gak pernah lewat jalur utara, dan asataga betapa jalanan di tol Kanci tidak bersahabat sekali, gundukan yang terlalu tinggi, cukup berbahaya buat pengendara.

Alhamdullilah kami selamat sampai tujuan, dan malam pertama seperti biasa, makan malam dan makan duren di alun-alun wonosari dan ngeteh di depan ATM BCA/BNI wonosari.

Kamisnya, kami ke Yogya dan mampir ke Taman Pintar.
Ternyata seruuu sekali...