Rabu, 22 Desember 2010

Relasi = Rejeki

by : Toge Aprilianto


Senyampang kita masih berstatus manusia, maka relasi menjadi sesuatu yang niscaya kita alami. Lebih dari itu, relasi merupakan salah satu penyokong hidup yang penting kita rawat, karena kita akan menghadapi kesulitan tak terkira bila gagal memiliki relasi yang optimal. Sampai di sini, saya percaya bahwa Anda akan setuju. Sekarang, apakah Anda masih akan setuju, bila saya menyatakan bahwa relasi sesungguhnya selalu hanya bersifat personal, bukan sosial? Mari kita renungkan..

Bila kita bicara relasi, maka kita perlu lebih dulu memahami makna sebuah perilaku. Relasi adalah situasi dimana perilaku antar orang yang terlibat akan saling berinteraksi. Itu sebabnya perlu bicara soal perilaku dulu, untuk dapat memahami apa makna yang terkandung di dalam relasi. Apalagi bila saya sebut relasi selalu bersifat personal dan bukan sosial, sementara selama ini kita sering berkata atau menggunakan istilah “relasi sosial”.

Secara ringkas, perilaku dapat dipahami sebagai upaya untuk mendapat kenyamanan. Jadi, tiap kita hanya akan berperilaku ketika kita merasa tidak nyaman sehingga ingin mendapat kenyamanan atau saat kita merasa ada hal-hal yang mengancam keyamanan yang kita miliki saat itu. Hal pokok yang kedua, dalam konsep perilaku, adalah bahwa perilaku merupakan hasil integrasi antar komponen pembentuk yang saling berusaha mengendalikan apa yang kita tampilkan dalam aktivitas yang kasat mata. Tanpa integrasi, maka perilaku tidak akan dapat berlangsung secara optimal sehingga tujuan mendapat kenyamanan juga pasti gagal. Contoh: bila kita berjalan, maka aktivitas berjalan itu baru dapat disebut perilaku yang optimal bila aktivitas berjalan itu betul-betul kita sadari, kita nikmati, dilakukan dengan maksud yang jelas dan sungguh mendapat dukungan penuh dari kondisi fisik kita saat itu. Bila misalnya kondisi fisik tidak mendukung, maka aktivitas berjalan pun bisa jadi tidak optimal. Pincang, misalnya. Bila kita tidak menyadarinya, bisa jadi masalah karena berarti kita berjalan sambil melamun. Bila kita tidak dapat menikmati aktivitas berjalan itu, maka kita akan merasa tidak nyaman selama aktivitas itu terjadi.
Dengan demikian, bila kita menjalin relasi dengan orang lain, itupun pasti hanya akan optimal bila kita melakukannya dengan perilaku yang optimal juga. Secara awam, kondisi inilah yang kita sebut “segenap jiwa-raga”. Bila relasi dibangun tanpa dukungan perilaku yang optimal, maka relasi yang mungkin terjadi juga akan sulit memberikan manfaat buat pihak-pihak yang terlibat. Hal ini sangat lekat kaitannya dengan kenyamanan, karena relasi selalu hanya akan dilakukan selama ada manfaat yang bisa kita peroleh darinya. 

Jadi, relasi sehat sebetulnya hanya tentang perilaku nyaman. Selama ada pihak yang merasa tidak nyaman, sehingga tampilan perilakunya menjadi tidak optimal, entah ragu-ragu atau merasa terpaksa, maka sadar atau tidak ia akan membuat pihak lain dalam relasi itu juga menjadi tidak nyaman. Kalau sudah begitu, cepat atau lambat relasi tersebut akan rusak karena tidak lagi dirasakan bermanfaat oleh pihak-pihak yang terlibat.

Dari sini kita bisa mencermati bahwa relasi itu sesungguhnya hanyalah alat untuk mendapatkan rasa nyaman yang kita perlukan. Jadi, bila kita melakukan aktivitas yang melibatkan orang lain, maka hal itu sebetulnya juga hanya dimaksudkan untuk mengambil manfaat dari orang-orang yang ketika itu kita libatkan. Walau aktivitasnya nampak dilakukan bersama-sama, tapi yang terjadi sebetulnya hanyalah proses internal dalam diri tiap-tiap orang yang terlibat. Bahkan mereka yang perannya jadi pihak yang dilibatkan, sebetulnya juga hanya berusaha mendapatkan manfaat dari orang-orang yang mengajaknya terlibat. Coba direnungkan, apa yang membuat mereka memutuskan untuk mau diajak terlibat dalam relasi itu? Tentu, karena mereka menilai bahwa keterlibatan mereka akan membuat mereka mendapatkan manfaat bagi kepentingan pribadinya. Bila tidak terlihat akan ada manfaatnya, maka dapat dipastikan mereka akan menolak ajakan itu. Catatan: manfaat di sini tidak selalu berarti hal-hal yang sifatnya material-komersial. Sekadar perasaan nikmat karena suka melakukan hal itu, juga termasuk manfaat yang mungkin mendorongnya setuju untuk terlibat.

Sampai di sini, jelas bahwa relasi sesungguhnya selalu bersifat personal, bukan sosial. Ketika relasi terbangun, hal itu menunjukkan bahwa orang-orang yang terlibat di dalamnya menilai bahwa relasi itu akan membawa dampak menyenangkan bagi mereka masing-masing. Bukankah begitu adanya? Jadi, apa Anda dapat setuju dengan saya, bahwa relasi selalu bersifat personal?

Selanjutnya, karena sifatnya yang personal itu, maka kita juga perlu memahami bahwa relasi selalu memerlukan KESEPAKATAN. Tanpa kesepakatan, maka kita pasti kesulitan mendapatkan orang yang bersedia diajak terlibat dalam sebuah relasi yang kita harapkan dapat memberikan manfaat dan kenyamanan buat kita. Kesepakatanlah yang menentukan apakah sebuah relasi dapat dibangun dan berfungsi optimal demi mendukung upaya memperoleh manfaat dan kenyamanan buat semua pihak yang terlibat. Itu sebabnya kita sering mendengar istilah “win-win” kalau kita bicara tentang relasi. Memang, relasi yang optimal hanya akan terjadi saat atmosfer di dalamnya bersifat “win-win”. Bila tidak, pasti akan ada pihak yang merasa dirugikan sehingga ia juga merasa kehilangan kenyamanan. 

Dampaknya, ia akan berbuat sesuatu untuk mendapat kenyamanan, entah apa cara dan bentuknya, termasuk membuat orang lain menjadi tidak nyaman juga. Bila ini yang terjadi, maka relasi dapat diramalkan bubar dan tidak ada lagi yang bisa mendapatkan manfaat dari relasi tersebut.


catatan:
lebih komplit tentang relasi yang bersifat personal, ada di buku “Kurangkul Diriku Demi Merangkul Bahagiaku”.
salam,
ge

Note :
Harga Buku Rp. 40.000



2 komentar:

  1. aku baru aja baca tentang ini makanya kok kayaknya kenal nih ama kata relasi hehehehe..

    BalasHapus