Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2013

Apakah itu "SEFT"

Lagi rame yang soal "SEFT"
beberapa temen-temenku juga ada yang nawarin ikut SEFT buat kebaikan dika katanya dan hasil ngobrol sana sini sama Nit trus dapat info ini nih di paman google ( tapi maaf ini ga tau link yang mana yang aku copas, maaf yaaa)

Versi Lengkap SEFT

1. The Set-Up

“The Set-Up” bertujuan untuk memastikan agar aliran energi tubuh kita terarahkan dengan tepat. Langkah ini kita lakukan untuk menetralisir “Psychological reversal” atau “perlawanan psikologis” (biasanya berupa pikiran negatif spontan atau keyakinan bahwa sadar negatif).
Contoh Psychological Reversal ini diantaranya:
· Saya tidak bisa mencapai impian saya
· Saya tidak dapat bicara di depan publik dengan percaya diri
· Saya adalah korban pelecehan seksual yang malang
· Saya tidak bisa menghindari rasa bersalah yang terus menghantui hidup saya
· Saya marah dan kecewa pada istri/suami saya karena dia tidak seperti yang saya harapkan
· Saya kesal dengan anak-anak, karena mereka susah diatur
· Saya tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan rokok
· Saya tidak termotivasi untuk belajar, saya pemalas
· Saya tidak mungkin bisa memenangkan pertandingan ini
· Saya menyerah, saya tidak mampu melakukannya.
· Saya… Saya… Saya…

Jika keyakinan atau pikiran negatif seperti contoh di atas terjadi, maka berdo’a dengan khusyu’, ikhlas dan pasrah: “Yaa Allah… meskipun saya _______ (keluhan anda), saya ikhlas, saya pasrah pada-Mu sepenuhnya”

Inilah obatnya: kata-kata di atas disebut The Set-Up Words, yaitu beberapa kata yang perlu anda ucapkan dengan penuh perasaan untuk menetralisir Psychological reversal (keyakinan dan pikiran negatif). Dalam bahasa religius, the set-up words adalah “doa kepasrahan” kita pada Allah swt. Bahwa apapun masalah dan rasa sakit yang kita alami saat ini, kita ikhlas menerimanya dan kita pasrahkan kesembuhan nya pada Allah swt.

“The Set-Up” sebenarnya terdiri dari 2 aktivitas, yang pertama adalah mengucapkan kalimat seperti di atas dengan penuh rasa khusyu’, ikhlas dan pasrah sebanyak 3 kali. Dan yang kedua adalah sambil mengucapkan dengan penuh perasaan, kita menekan dada kita , tepatnya di bagian “Sore Spot” (titik nyeri = daerah di sekitar dada atas yang jika ditekan terasa agak sakit) atau mengetuk dengan dua ujung jari di bagian “Karate Chop”. (lihat gb. 1 dan gb.2 di halaman 36)

Setelah menekan titik nyeri atau mengetuk karate chop sambil mengucapkan kalimat Set-Up seperti di atas, kita melanjutkan dengan langkah kedua, “the Tune-In”.

2. The Tune-In

Untuk masalah fisik, kita melakukan tune-in dengan cara merasakan rasa sakit yang kita alami, lalu mengarahkan pikiran kita ke tempat rasa sakit dan sambil terus melakukan 2 hal tersebut, hati dan mulut kita mengatakan, “saya ikhlas, saya pasrah… yaa Allah..”

Untuk masalah emosi, kita melakukan “Tune-In” dengan cara memikirkan sesuatu atau peristiwa spesifik tertentu yang dapat membangkitkan emosi negatif yang ingin kita hilangkan. Ketika terjadi reaksi negatif (marah, sedih, takut, dsb.) hati dan mulut kita mengatakan, Yaa Allah.. saya ikhlas…. Saya pasrah…

Bersamaan dengan Tune-In ini kita melakukan langkah ke 3 (Tapping). Pada proses inilah (Tune-In yang dibarengi tapping) kita menetralisir emosi negatif atau rasa sakit fisik.

3. The Tapping

Tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada titik-titik tertentu di tubuh kita sambil terus Tune-In. titik-titik ini adalah titik-titik kunci dari “The Major Energy Meridians”, yang jika kita ketuk beberapa kali akan berdampak pada ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita rasakan. Karena aliran energi tubuh berjalan dengan normal dan seimbang kembali.

Berikut adalah titik-titik tersebut :

Cr = Crown
- Pada titik dibagian atas kepala

EB =  Eye Brow
- Pada titik permulaan alis mata

SE = Side of the Eye
- Di atas tulang disamping mata

UE = Under the Eye
- 2 cm dibawah kelopak mata

UN = Under the Nose
- Tepat dibawah hidung

Ch = Chin
- Di antara dagu dan bagian bawah bibir

CB = Collar Bone
- Di ujung tempat bertemunya tulang dada, collar bone dan tulang rusuk pertama

UA = Under the Arm
- Di bawah ketiak sejajar dengan putting susu (pria) atau tepat di bagian tengah tali bra (wanita)

BN = Bellow Nipple
- 2,5 cm di bawah putting susu (pria) atau di perbatasan antara tulang dada dan bagian bahwa payudara

IH = Inside of Hand
- Di bagian dalam tangan yang berbatasan dengan telapak tangan

OH = Outside of Hand
- Di bagian luar tangan yang berbatasan dengan telapak tangan

Th = Thumb
- Ibu jari disamping luar bagian bawah kuku

IF = Index Finger
- Jari telunjuk di samping luar bagian bawah kuku (dibagian yang menghadap ibu jari)

MF = Middle Finger
- Jari tengah samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)

RF = Ring Finger
- Jari manis di samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)

BF = Baby Finger
- Di jari kelingking di samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)

KC = Karate Chop
- Di samping telapak tangan, bagian yang kita gunakan untuk mematahkan balok saat karate

GS = Gamut Spot
- Di bagian antara perpanjangan tulang jari manis dan tulang jari kelingking


.
Lusa aku bakal ketemuan sama temen-temen yang ikutan preview "SEFT", jadi penasaran pengin tau apa versi mereka tentang SEFT ini....







Sabtu, 18 Desember 2010

Dika bukan Anak Biasa

Ya.. ya... dika memang bukan anak biasa.

Sejak kapan ya saya sadari ini..... hmmm sejak dika umur 2 tahun rasanya, ketika tetangga-tetangga saya berkata
"o, ternyata dika tidak bisu ya ",
"o, ternyata dika bisa ngomong",
"o, ternyata dika ngerti juga kalo diajak ngomong"
dan o, o, lainnya

Gak cuma dari tetangga, bahkan orang-orang terdekat kamipun sering mempertanyakan kenapa dika belum bisa A, belum bisa b, kenapa tidak seperti si a, seperti si b, deelel.

Sedih ? bangeet
Saya sempet mempertanyakan apa salah saya sama Allah, kenapa dika harus beda, mengapa tidak seperti anak-anak yang lain... tapi apakah dengan begitu masalahnya selesai ?
Tidak, meski saya bertanya terus, Allah tidak menjawabnya dengan membuat dika seketika sama seperti anak-anak lain.

Ada beberapa proses yang saya lalui,
blogging ataupun akhirnya melihat langsung, saya menemukan bahwa banyak anak-anak yang tidak diberikan keberuntungan seperti dika.

akhirnya menyadarkan saya ....
shinta, lihatlah..... dika memiliki tangan, jari, kaki, badan, wajah yang utuh serta senyum yang manis dan dan keluarga yang lengkap yang mungkin tidak dimiliki anak-anak lain.
berjuanglah demi anak ini.... anak yang telah kau tunggu sekian lama
Ayo bulatkan tekadmu, tambahkan kesabaranmu dan semangatmu untuk anak ini.

Jatuh bangun saya mengendalikan semangat saya, maju-mundur waktu diawal,
lelah, tentu saja..... tapi ini tidak boleh berakhir.

Akhirnya suatu waktu, saya bertemu dengan teman-teman hebat yang juga memiliki anak-anak luarbiasa, dan saya bener-bener kagum atas apa yang telah mereka lakukan untuk anak-anak ini, dan hal ini bener-bener memompa semangat saya, bahwa apa yang saya lakukan belum maksimal, masih banyak tahap, masih butuh kesabaran yang luar biasa dalam mendampingi dika.

bermainlah dika..... berlarilah dika .....tersenyumlah dika seperti apa adanya....

mami disampingmu,membimbingmu, menjagamu.... dan berjuang untukmu.
mari kita taklukan dunia bersama..... :D

lihatlah.... mami tidak lagi menangis karena perbedaan ini
mami tidak lagi peduli akan kerutan kening orang yg melihatmu

Karena DIKA bukan anak biasa dan mami akan jadi Ibu yang luar biasa untukmu.....
dan mami sungguh bersyukur karena memilikimu....

*terinsiprasi dari pesan te-lena diinbox-ku.... terima kasih te.

~181210~

Senin, 22 November 2010

TERSEDAK DURI IKAN


Ini pengalaman Dika pertama kalinya tersedak Ikan setelah bertahun-tahun makan Ikan.

Saat itu di Kawali Restoran, saya, papi n Dika makan bersama, menu pilihannya serba Ikan.

Seperti biasa Dika pilih makan sendiri, ambil setengah ekor Ikan goreng plus saya potongi Ikan tim. Duri-duri saya pastikan tidak ada disetiap potongan ikan.

Ketika tinggal 2-3 suap nasi plus lauk di piring dika, saya sempat lengah, ntah dika ambil sendiri ikan gorang, ntah ikan timnya, tapi tiba-tiba dika berenti makan dan seperti kesulitan nelan, trus teriat sakit ma.

Repleks saya tinggalkan piring saya dan bertanya ada apa, saya tepok pelan punggungnya kemudian saya angsurkan aqua botol ke dika, bisa minum n dia bilang udah gak papa. Ah syukurlah saya sudah setengah panik tadi.

Saya ambil piringnya, minta dia stop makan n cuci tangan di wastafel.

Setelah balik ke saung kami, duduk disamping papi, dia teriak, sakit mi, sakit...dengan air mata yg mengalir. Apa yang sakit dika, dia tunjuk gigi, dan ambil tusuk gigi minta saya bersihkan giginya, sudah saya bersihkan, tapi dia tetep gak nyaman, saya bilang lagi apa yg sakit, tetep tunjuk gigi, saya tanya lagi apa dika, leher atau gigi (dengan menunjuk leher n gigi) tetep pilih gigi. Saya minta dia minum hangat n makan nasi tanpa kunyah, tapi dika nolak. Setelah muntah dikit dika bilang udah gak sakit lagi.

Kami putuskan untuk pulang, ketika mendekati meja kasir, dika batuk dan muntah hebat, saya tarik dika ke wastafel krn gak enak dg tamu yang lain, muntahlah dia di wastafel, diakhir muntah ada sedikit darah...waaaks saya cukup kaget, hadoooh pasti durinya masih ada n tenggorokannya luka.... saya kasih minum dan dika cukup tenang. Dia bilang lagi, udah mi, gak papa. Saya tanya papi gimana, apa ke dokter saja ? Papi bilang pulang aza dulu, liat di rumah gimana.

Tanya2 beberapa temen, dikasih beberapa saran, saya pillih observasi dulu setelah diskusi dengan papi.

Tapi pas bangun tidur, dika batuk dan muntah lagi dengan disertai sedikit darah..... Oh noo darah lagi, bbm n bbg teman, kemungkinan luka makanya berdarah muntahnya. Disarankan minum air dingin atau ice cream untuk menutup lukanya.

Bangun dari tidurnya lagi, dika masih tampak kesakitan, nangis n merengek terus, minta di gendong, pegang leher n kupingnya setiap bilang sakit. Setelah diskusi dengan papi saya putuskan, tuk ngecek aja ke dokter, tuk memutuskan apa masih ada duri atau hanya tinggal lukanya saja. Konsul ke dokterku yg jauh diujung langit, dia bilang ke THT saja mbak untuk mastikan ada durinya atau tidak, semakin mantap saya ke dokter.

Sebelum berangkat, saya minta dika makan dulu (sekalian mo tau apa lehernya masih sakit atau tidak buat nelan), suapan 1-5 dika masih meringis setiap kali nelen, seperti biasa dika minta tambah, okeelah boleh untuk sore ini tambah agak banyak, ooooo semakin kesini kok dika tambah nyaman nelennya, minumnya juga udah gak menyeringai lagi.... Alhamdullilah, saya bilang papi, piii kita gak jadi ke dokter ya, kita observasi lagi, dika sakit beneran atau sakit manja, kalo emang beneran, baru kita ajak dika ke dokter. Sip kata papi.

Gak lama kemudian, tante jemput dika untuk dibawa ke rumah mbah. Saya n papi nyusul gak lama kemudian. Kita makan malam bareng disana, termasuk dika. Hehehe... Makannya banyak n tidak kesakitan. Yiiiiipiiie saya berteriak dalam hati, Alhamdullilah, Alhamdullilah teriak saya, syukurlah keputusan saya untuk tetep observasi membuahkan hasil yang baik untuk Dika.

Sungguh untuk tidak panik, butuh hati dan pikiran yang tenang, butuh banyak dukungan dari keluarga dan teman.

Selalu ada pengalaman pertama yang bikin kita panik, dan saya bersyukur bisa belajar dari rasa panik kali ini.

Terima kasih ya Allah atas kesempatan yang Kau berikan agar aku terus belajar n belajar.

Terima kasih ya Dika, untukmulah mami akan terus belajar.

Terima kasih papi untuk selalu membuatku kuat.

Terima kasih temen2, yang tak lelah memberikan saran n dukungan yang hebaat.

Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat buat temen2 ya. Enak rasanya memiliki rasa panik, tanpa rasa ini kita tidak akan belajar, tinggal bagaimana kita mengelola rasa ini dan tetap berpikir Rational.

Salam
Shinta

Kamis, 14 Oktober 2010

Kenapa saya pilih "Kids Autis Center"

Copas posting saya di FB
Gag ada niatan untuk jualan tempat ini
Hanya ingin share proses kenapa dika harus berada di sana.
Semoga bisa jadi semangat buat teman2 yg memiliki anak seperti Andika.
Selamat membaca

***************************************

Jadi pengin nulis tentang "Andika" (menjelang detik-detik kelahirannya minggu ini)

Setahun lalu, diusianya yang menginjak 5 tahun, saya membawa Andika ke dokter Tumbang di RSCM.
( hasil ricek saya pada tabel milestone baby & toddler dan mengecek tahapan-2 dalam perkembangan anak pada Andika, dan hasil ricek itulah saya memutuskan membawa Andika ke dr. Tumbang, keinginan saya ke dr. tumbang ini juga telah saya diskusikan dengan om dokter Anto, dan beliau yang merekomendasikan dokter tumbang yang saya temui)

Dari hasil assesment dan test denver, diusia 5 tahun kosa kata Dika dinyatakan seperti anak yang berusia 3 tahun, huruf yang keluar belum jelas terdengar seperti fungsinya, dan masih belum banyak kata yang dia kuasai, dan belum diketahui apakah ini dari Klinis atau non Klinis. Bu dokter menyarankan saya untuk Test Pendengaran " BERA test" untuk mengetahui apakah ada gangguan di pendengaran Andika, kalo tidak ada gangguan bisa langsung ke Klinik Tumbang atau ke Psikolog dulu. Di rumah harus tetap di Stimulasi agar kosa katanya bertambah

Untuk anak-anak usia Dika, cukup rawan untuk tidak diberikan terapi karena sebentar lagi dia akan memasuki usia sekolah dan ini bisa mengganggu emosi dan interaksi sosialnya, karena harusnya orangtua sudah mulai aware sejak si anak usia 3 tahun.

Sesuai arahan bu dokter, saya memilih test pendengaran terlebih dahulu, hasilnya Bera 70 db, hasil OAE tidak maksimal perlu diulang. dr. THT belum bisa mendiagnosa apakah Dika benaran ada gangguan pendengaran atau tidak, karena hasil Bera dilakukan ketika telinga sedang kotor, hasil OAe dilakukan ketika dika dalam keadaan terjaga, hasil BOA tidak sinkron dengan hasil test BERA. intinya perlu dilakukan pemeriksaan ulang setelah 6 bulan dari test ini dilakukan.

Saya call dr. Tumbang saya menginformasikan hasil test ini, dan Beliau menyarankan untuk mengulang test ini dan langsung bawa dika ke Klinik Tumbang untuk terapi wicara.

Saya memutuskan untuk bertemu dengan Psikolog sebelum Terapi Wicara, dari bincang-bincang kami dengan om Toge, kami baru mengetahui bahwa selama ini dika hidup dengan banyak fasilitas gratis yang menyebabkan dika menjadi anak yang pemalas, dia memiliki stamina yang jelek, sehingga berbicara bukan menjadi kegiatan yang asyik karena perlu mengeluarkan tenaga. Banyak deh yang kami dapat hari itu.... Alhamdullilah saya, eyang bersepakat untuk meninggalkan cara-cara lama kami dalam mengasuh Andika. Oiya kami disarankan untuk mengecek organ wicara Andika dan mungkin Terapi wicara bisa membantu Andika.

Hari-hari berikutnya saya dan pa dika hunting lewat email ataupun datang langsung ke beberapa tempat terapi, banyak kriteria yang kami timbang-timbang, termasuk soal biaya, jarak dan program yang diberikan, sudah hunting beberapa terapis yang bisa diundang ke rumah.

Akhirnya saya memilih Kids Autis Center, sebuah klinik tumbuh kembang di daerah Ciledug Indah. Sekitar 15 menit dari rumah kami.
Assessment dengan psikolog disana, organ wicara dika normal, tidak heperaktif, tidak ada gangguan dalam diri dika, dika hanya speech delayed dan kita perlu memperbaiki pola asuh serta membuat dika menjadi percaya diri, bila dika percaya diri maka kemampuan bicaranya pasti akan meningkat, kita harus buat dika menjadi mau dan bisa begitu katanya. ( hal lainnya hampir sama dengan hasil penerawangan om Toge).

Tidak ada garansi yang dijanjikan dari program yang diberikan, tapi mereka akan berusaha memenuhi kebutuhan Andika. Menjadikan Andika anak yang lancar bicara dan juga bisa mengejar ketinggalannya.

Hari ini tepat 6 bulan, saat ini kosa kata Dika dah buanyak, konsistensi menjawab pertanyaan sudah sangat meningkat, motorik halusnya sudah berkembang, bernyanyi, bercerita meski masih tertatih, kepercayaan dirinya meningkat, interaksi sosialnya tidak ada masalah. Banyak berkah yang kami dapatkan setelah mengikuti program disana

Mereka tidak menawarkan SI, obat-obatan dan juga program lain yang sebelumnya sudah membuat saya khawatirkan, karena memang tidak ada dalam program mereka.

Minggu ini Dika akan belajar mengenal "Rasa" dan juga mencocokkan "gambar", dalam hal ini diharapkan kemampuan dika untuk bercerita akan meningkat.

Wuaah masih banyak yang harus dikejar..... tapi saya tidak menyesal membiarkannya nyemplung di tempat terapi itu....
Karena buat saya.... orang tua adalah alarm si Anak, begitu kita tau ada masalah, kita harus mencari solusi terbaik meski itu harus membiarkannya belajar ditempat lain dan bukan di rumah, meski itu harus ditempat terapi bernama "Kids Autis Center".

Support dari temen-teman baik mama, juga membuat mama menjadi yakin bahwa dirimu memang perlu berada ditempat itu, dan mama tidak pernah menyesalinya.

Mama bangga padamu, Andika....
Mari belajar bersama ya Nak...... Ajarkan Mama terus untuk menjadi Ibu yang terbaik untukmu ya.
love you Andika............


Salam
Shinta
*4 days to go..

Jumat, 03 September 2010

(tentang Dika ) - BIASA YANG LUARBIASA


Udah lama gag cerita tentang Dika di Mp.... karena hari ini saya buat catatan di FB, so di copas deh... buat temen-temen di MP

Seperti yang ditulis di Efbe,

Rabu yang lalu (01-Sep 2010), ketika saya n Pa Dika sampai di rumah Eyang, Eyang memperlihatkan hasil terapi Dika hari ini. Sebulan ini dalam sesi terapi, selain meronce dan main plastisin ( memilin, meremas, dan menggunting) disisipkan sesi menulis dot to dot dan mewarnai.

Yang bikin saya melonjak kegirangan adalah hari ini Dika sudah bisa menulis angka 2 dan 3 mandiri tanpa bantuan dari terapisnya dan hasil mewarnainya juga sudah hampir rapi. Waaaah hati saya berdegup kencang sekali, merasakan kebahagiaan dan keharuan  yang meletup-letup.




2-3 sudah
 mulai bisa, alhamdullilah




Dot to dot diawal-awal

Kebahagian ini saya share ke beberapa BBG dengan mengirimkan tulisan dan gambar yang dika buat, dan betapa saya sangat berbahagia dengan sambutan yang sahabat-sahabat saya berikan. Mba Luluk menyarankan saya untuk menulis tentang ini agar bisa menginpirasi ortu yang lain, saya sempat ragu sebetulnya, karena ini mungkin hal yang sangat biasa buat teman-teman yang lain tapi ini sungguh luarbiasa buat saya. Setelah diskusi dengan penasehat spiritual saya “mommy oke”, akhirnya keraguaan itu hilang, dan jadilah saya menulis tentang kemajuan Dika.

Flash Back dulu ya,
Ketika Dika berumur 3 tahun saya sudah merasa bahawa ada yang berbeda dari dika, kemampuan bicaranya mengapa tidak bertambah,  bila berbicara hanya itu-itu saja, namun orang tua saya mengatakan bahwa wajar bila anak laki-laki terlambat bicara, nanti juga bisa, dan hal lainnya. Namun kecurigaan saya tidak juga berkurang.

Mewarnai di awal


Mewarnai pertanggal 1 Sep 2010

Akhirnya saya putuskan untuk bertemu dengan dr. Tumbang di RSCM atas rekomendasi dr. Anto, dengan hasil assessment : kosa kata Dika masih seperti anak 3 tahun,  ada kemungkinan speech delay dan untuk membuktikan penyebabnya dika harus Test penderangan (test BERA). Setelah diskusi dengan beberapa temen, akhirnya saya putuskan untuk melakukan test tersebut di Hearing Center-di Cikini pada Februari yang lalu dan hasilnya 70 db, ada kerusakan sedikit pada telinganya, namun hasil ini masih diragukan mengingat hasil test tympano, Bera dan di auditory gak sama. Jadi dr. THT menyarankan untuk observasi selama 6 bulan dan semua test diulangi, dan disarankan stimulus berbicara dengan nada yang tinggi, karena itu juga sabagai terapi pendengaran.

Saya sebenarnya sedikit memungkiri bahwa ada gangguan pendengaran, karena dia bisa menjawab pertanyaan saya ditelpon, menjawab pertanyaan saya dengan membelakangi, menjawab pertanyaan saya ketika saya berada di ruangan yang berbeda.

Saya tidak kembali ke dr. Tumbang,   melainkan langsung ke psikolog untuk mendiskusikan “ada apa dengan Dika”, akhirnya tanggal 24-Feb-2010  saya boyong Dika, eyang, mbah dan papa untuk bertemu dengan om Psikolog.  Analisanya “Dika Pemalas karena banyak di fasilitasi oleh orang-orang di Sekitar”,  hmmm bener juga sih, si Om meminta agar dika lebih banyak beraktifitas fisik  ( ooo ternyata berbicara itu butuh stamina dan pernafasan yang baik ya, hihih baru ngeh saya),  minimalisir fasilitas yang diberikan ke Dika dan juga memeriksakan organ wicaranya atau mengikuti terapi wicara.  Saat itu hanya saya yang bawa segambreng orang untuk bertemu si om, alasannya saya ingin semua orang yang berhubungan dekat dengan dika bisa bersinergi untuk “membantu” Dika.

Setelah hunting kebeberapa tempat, akhir maret lalu, saya memulai assessment dengan Psikolog di tempat Dika Terapi saat ini.  Psikolog tersebut menyampaikan saat ini Dika hanya malas dan kurang Pede untuk berbicara, jadi kita perlu membuat Dika “mau berbicara”.  Metodenya tidak hanya Terapi wicara saja, tapi akan ada aktifitas fisik, bermain Plastisin + meronce untuk meningkatkan motorik halusnya, dan lain-lain,  saya setuju karena ini masih sejalan dengan analisa yang saya dapat dari si Om.

Hari berganti hari, Dika terus menjalani terapi-nya (mama tau sayang, kadang kamu bosan khan... tapi ini demi kemajuanmu sayang), dari seminggu pertama selalu menangis di kelas, seminggu kemudian menangis sambil mengikuti arahan terapisnya, sampai akhirnya bener-bener enjoy di kelasnya. Sementara saya selalu menunggu dengan berdebar-debar.

Alhamdulilah kemajuan sedikit-sedikit mulai nampak,  dika sudah mulai cerewet, mau bertanya, bisa ngobrol dengan teman-temannya, kosa katanya bertambah, bisa menjawab pertanyaan dengan cepat,  mau menulis dan mewarnai, serta banyak  hal lain yang dika miliki saat ini.

September ini akan menginjak bulan kelima Dika mengikuti terapi dan saya akan tetap meneruskannya terapi ini  sampai dika benar-benar mandiri (menurut saya) dan saya gag sabar menunggu letupan-letupan kebahagiaan yang diberikan oleh Dika seperti saat ini.

Masih banyak PR mama untukmu sayang, mohon doakan mama ya sayang, semoga mama selalu sehat, diberikan rizki yang berlimpah agar bisa terus menjaga dan menemanimu selalu, jangan menyerah ya sayang dan teruslah menjadi cahaya buat mama.

Love you Andika Nurluthfi

Minggu, 30 Mei 2010

Bayi Itu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Sejak Januari 2010 yang lalu aku ikutan milis baru, di gawangi oleh seorang psikolog muda yang menetap di Surabaya dengan minat di bidang pendidikan dan industri bersama - sama dengan beberapa Ibu-Ibu dan bapak-2 yang hebat dalam pengasuhan anak dan rules dimilis ini cukup simple dan sederhana "To be Kind To Everyone", indah bukan ?

Betapa milis ini membuatku hidup dengan lebih ikhlas, penuh syukur dan banyak ilmu pengasuhan yang kudapatkan dari posting temen-2 baik OOT maupun gak OOT, milis yang bikin aku tertawa sampe sakit perut, mengeryit dan menangis dengan penuh syukur.

Beberapa posting yang membuatku menangis dan bersyukur adalah :

BAYI ITU
by : dr. xxxxx di cilebeut

Hanya sedikit bercerita.....
lagi2 tentang apa yg kulihat di meja pembaringan berwarna putih.....
Hari ini kujumpa dengan makhluk mungil yg manis lucu...tapi seperti ada yg aneh....autiskah....CPkah???..

Ketika kumulai membuka kerudungnya....
ooppsss.....ternyata makhluk mungil bernama bayi ini....adalahj penderita "anencephal" sebagian tulang tengkoraknya tidak tumbuh selam dlm kandungan n tdk terbentuk sebagian shg otak bagian atas hanya terbungkus kulit kepala....bayi ini diantar oleh sang nenek....dan ibunya bekerja....karena finansial...utk membiayai bayi ini....

Disaat kita repot dg pola asuh yg berbeda antara kita dan org tua....ibu bayi ini begitu pasrah pada sang nenek...utk mengasuh anaknya....

ketika kita repot dg perubahan anak kita yg tampak 'tak bisa berdagang'....ibu bayi ini pasrah dgn tumbuh kembang anaknya....

disaat kita sibuk ingin risain ato kerja....ibu bayi ini pasrah harus bekerja krn harus menghidupi bayinya tanpa bingung memprtimbangkan apakah anaknya diasuh seorang S3 atau org yg tdk mengenyam sekolah....

disaat kita sibuk dg berbagai pola makan anak2 kita...ibu ini hanya pasrah krn bayinya hanya bisa minum....

disaat kita kuatir dg kecerdasan anak2 kita ibu ini pasrah dg kelangsungan hidup anaknya....dan dia tetap bersyukur karena anaknya masih dipercaya utk hidup....meskipun ibu ini rela menjual rumah nyamannya...mobil mulusnya....tanpa berharap anaknya menjadi "pintar"....karena dia hanya berharap......ANAKKU BISA HIDUP....

Sudahkah kita PASRAH dan membiarkan Tuhan ikut "bekerja"...

Sungguh tulisan ini membuatku mbrebes mili,

Kadang kita suka gak menyadari bahwa ada diluaran sana yang kondisinya lebih sulit dan disadari atau tanpa disadari terkadang itu bikin kita gak ikhlas menghadapi warna warni hidup yang telah ditulis olehNya.

Kadang kita selalu melihat keatas tanpa melihat kebawah dan terkadang kita terus menerus memaksakan kehendak kita yg tanpa sadar ternyata membuat orang disekililing kita bersedih, tanpa sadar kita menjadi pongah, iri dan menjadi orang yang tidak bersyukur.

Padahal ada kuasa Allah atas semua hal di dunia ini, meski kita telah berikhtiar dan berdoa terkadang kita suka lupa bahwa selalu  ada campur tangan Allah disetiap hembusan nafas kita.

Terima kasih ya Allah karena telah kau titipkan Andika padaku, hartaku yang tak ternilai dengan apapun

Maaf ya teman kalo gak berkenan, hanya ingin berbagi saja
Terima kasih buat ceritanya ya bu dokter

quote dari our psi
Semoga makin hari kita makin mahir menjadi saluran berkah.. sbg bentuk
syukur atas berkah yang berlimpah.. sampe saat ini..

Amin....



Kamis, 22 April 2010

Sharing : Ketika Menyerah bukan Berarti Harus kalah

Tadinya gak kepingin sharing tentang commons cold yang dika alami, karena ini biasa saja tapi berhubung adik tercinta gw nowel-nowel dan bikin gw sedikit darti, makanya gw jadi pengin cerita di MP kesayangan gw ini.

01 April 2010
Dika mulai Demam disekitaran 39.5, paginya sudah di 38.5 dan ceria lagi dan keluar pileknya. Lega, karena gak usah bingung lagi si Virus sudah ketahuan.

04 April 2010
Karena behaviournya cukup aktif dan udah gak demam lagi kita nonton Oriental Circus Indonesia di Lap. Parkir Puri Indah Mall. Eh ndalalah pulangnya langsung demam tinggi (mungkin pengaruh pendingin ruangan yang anginnnya keras banget sementara dika lom fit bener). Demam dan batpil on off  tapi cuma kisaran 37.5 s/d 38.5 gw gak terlalu khawatir karena dika masih mau beraktifitas meskipun agak loyo.

09 April 2010
Dari Jum'at dika dah segeran, makanya Sabtu malam saya ajak kondangan ke Kalibata, nah lagi-lagi pulang dari undangan dika demam tinggi lagi. Suhu pada siang hari di 38.5 dan malam bisa sampai 39.7

Kondisinya : Tidak bergairah, makan mau tapi pilih-2 menunya, mainan gak mau, loyo, mata sayu, lemes, mintanya di gendiong terus. Ini berlangsung sampai dengan Jum'at tanggal 16 April 2010.  Pada periode itu pileknya dah hilang, tapi batuknya masih.

Gw gak khawatir ? tentu saja gw khawatir, tapi gw tetap tenang selama ada masih ada batuk, dan gw hitung nafasnya, gak ada indikasi sesak, gak ada mengi, jadi cuma batuk biasa.

Tapi Bokap gw dengan segala kekuasaannya selalu menekan gw dan papanya dika, dan selalu bilang nanti kalo terlambat gimana, kamu bakalan nyesel loh.

loh, loh, terlambat untuk apa ? dan nyesel karena apa ?
Gw itu sayang sama dika, dan gw bukannya diemen dika, tapi gw mengobservasi dika, kalo emang ada tanda-tanda kegawatdaruratan baru gw ke dokter itupun untuk mendapatkan diagnosis bukannya cari obat.

reaksi bokap : tetep keukeh dengan pendiriannya.

Sebenarnya ini adalah kali pertama dika batuk tapi demamnya manteng dan itu juga bikin gw degdegan, akhirnya diskusi sana sini, baca-baca sharingan temen-teman. Mba Ria juga inform kalo Nat juga pernah mengalami demam sampai dua mingguan, jadi gw sedikit lega.

Tapi Jum'at tanggal 16-04-2010 bokap BBM, sore ini Bapak akan bawa dika untuk test lab dan ke dokter... gw lagi di Padang waktu itu, langsung kalut banget, soalnya sejauh ini yang bisa nahan bokap cuma gw, akhirnya setelah diskusi sama papa dika, kita putuskan test lab untuk pastikan gak ada yang perlu dikhawatirkan dan gw buat janji ke Markas untuk konsul hari Sabtu. ( daripada dika dibawa ke dokter yang gak bener...hehehe)


Sabtu, 17-04-2010
Jam 7.30 gw berangkat ke Pesat Jakarta bersama dika dan papa, intinya hari itu hanya ingin antar pointer dan ketemu Ian untuk ambil pesenan Koka. Kondisi dika udah turun demamnya pas di mobil gw ukur cuma 37.7 ( legaaa ), tapi kondisi masih loyo sih.

Setelah ketemu Ian dan ngobrol sebentar, gw sempet kasih unjuk hasil lab dika, gak ada yang perlu dikhawatirkan, ini cuma virus kata Ian, cuma Hb dika agak rendah aza ( legaaaaa) oiya, makasih kokanya ya tante.

Sore hari ke Markas pake Taxi, mobil dipake bokap, sampai disana jam 4.30 tapi ternyata baru konsul jam 5.30 ( gak papa, toh tempatnya enak untuk nunggu), dika belum mau mainan sih, padahal banyak anak-anak dan mainan disana. Suhu tubuh pas dimarkas : 38der, BB 24 kg, TB : 110 cm.

Akhirnya tiba juga giliran dika, kita ngobrol-2 dulu, trus dika diperiksa pake stateskop, diperiksa telinganya, mulutnya, penisnya dan punggungnya ( hmmmm, kalo ke dokter lain apa iya sedetail ini diperiksanya), konsulin hasil lab dika. Dan diagnosisnya adalah 'COMMONS COLDS" , HB yang rendah biasa terjadi kalo lagi gak sehat, tapi MCVdan MCH dika memang rendah, ada indikasi ÄNEMIA", tapi mungkin saja karena Dika kurang makan, so No treatment dulu sampai bener-2 diketahui bahwa ada defesiensi besi yang hanya bisa diketahui dengan test SI, TIBC dan Feritin. ( ini dilakukan kalo dika sudah sehat bener).

yang lucu pas dr apin bilang, insya allah hari ini adalah demam yang terakhir, besok mudah-mudahan sudah gak demam, ech eyang bilang : Amin dok, khan udah dipegang pak dokter, hihihihi ( dr apin langsung pegang-2 dika, iya nih udah dipegang-pegang, besok sembuh ya ).

Alhamdullilah kata-kata dr Apin terbukti, dan mungkin ini memang sudah waktunya bagi dika untuk sembuh, sejak senin semuanya kembali ke semula, bocah gantengku dah ceria lagi, badannya dah gempal  lagi, sudah sekolah di pagi hari dan terapi wicara di sore hari, udah ngeledekin papa-mamanya, udah naik sepeda, makan banyak, minum susu lagi, dan kegabrek kegiatannya.

Dan saya sempet bilang ke Ibu Mertua saya, bahwa untuk kedepan kita gak perlu khawatir lagi kalo dika mengalami sakit seperti itu, toh hasil lab juga gak menghasilkan suatu tindakan medis yang perlu dilakukan, dan konsul kita ke dokter juga gak menghasilkan obat. Buktinya dika bisa sembuh tanpa obat-obatan ( 2x minum paracetamol saja pas demam 39,7 dan dika gelisah luar biasa). hmmm iya ya kata ibu saya.

Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari suatu kejadian, dan Allah memang ingin kita selalu belajar, insya allah untuk kedepan kami akan berusaha lebih baik lagi. 

Terima kasih buat dika yang bikin mama ingin selalu belajar, terima kasih buat mbak Ria, "my lovely dokter " dr. Ian dan dr. Anto (miss you a lot dok) serta dr. Apin yang selalu bersedia untuk diajak diskusi, dan special buat papa dan eyang dika yang selalu ada dan mendukung mama.