Tampilkan postingan dengan label health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label health. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 September 2014

FAVIAN IMUNISASI





Favian 07.09.2014
Imunisasi PCV-2
Prevenar 13, lot. J24019, Manufacture. 10.2013, exp 09.2016, Harga Rp 750.000
@RV Ciledug

BB : 8.350 kg
PB : 67 cm
LK : 44 cm
suhu : 37 dercel
 
***************************************
Favian @10.08.2014
BB : 7.7 kg
PB : 66 cm
LK : 42 cm

Imunisasi DPT2, HIB2, Polio2 (Pediacel lot C4350AA, mfg date 13.06.2012, exp date 31.05.2015, Sanofi pasteur), 500rb

Imunisasi Rotavirus2 (Rotarix, AR0LA937AE, mfg date 06.2013, exp 05.2016), 350rb

@RV Ciledug  
 
**************************************************
Imunisasi PCv Favian @Rumah Vaksinasi Ciledug. (05-07-2014)

Vaksin Prevenar 13 (1)
lot 823058, exp 07.2015

BB : 7 kg
PB : 61.5 cm
LK : 40.5 cm
 
**************************************************
kontrol 2 bulan #Vian #06Jun2014
BB : 6,2 kg
PB : 59.5 cm
LK : 39.5 cm
Imunisasi : DPaT-HIB-IPV (pediacel) + Rotarivus ( Rotarix)

Growth chart : Weight P85, Height P85

Masdika
BB : 51,50 kg (turun 1kg, alhamdullilah)
TB : 139,5 cm
Imunisasi : HepB (ulangan)
 
**************************************************
 
3-05-2014

Mas Dika
9m6w, 137cm, 52.40 kg, hepB1 (ulang karena vaksin hepB-nya non Reactive)

Favian
1m, 57cm, 5 kg, LK 37cm, HepB2 + BCG
 
   

Senin, 06 Oktober 2008

Hadiah Lebaran buat Dika

Tahun ini Alhamdullilah Dika dapat banyak rezeki.....maklum cucu & ponakan pertama jadinya banyak dapat serbuan hadiah dari eyang, mbah dan om dan tante-2nya.

Selain itu hadiah yang paling heboh adalah pas malam lebaran pertama Dika kena Air Panas waktu mau ambil minum sendiri di Dispenser, papap lupa matiin dispensernya ( padahal kita dah janjian untuk selalu matikan dispenser kalo mau pergi tidur takut hal ini akan kejadian). Tapi mungkin itu hadiah lebaran untuk DIka, paling gak dia mendapat pelajaran bahwa Dispenser itu selaian berisi air dingin juga berisi Air Panas.  Yang Alhamdullilah lagi lukanya gak banyak.....jadi gak terlalu mengkhawatirkan.

Waktu tahu tangannya kena Air Panas, Dika langsung mama bawa ke kamar Mandi, tangan yang panas itu dialiri air mengalir hampir setengah jam, sambil PUP ( padahal jam 1 malam ). Alhasil, dia lumayan bisa tidur setelah itu.

Siangnya blisternya mulai tumbuh.....kecil....dan kemudian membesar ( mama langsung sms tante dokter yang baik yang tangannya juga melepuh dan sambil nunggu jawaban tante dokter mama juga telp mas Gendi-Sehat) dan sampai hari ke-4 lebaran masih sebesar ini :



Sampai hari Sabtu, mama masih bertahan diantara bisik-bisik tetangga kanan kiri yang menyarankan agak blisternya ditusuk aza agar lukanya tidak tambah membesar.

Tapi coba tebak apa yang terjadi....sewaktu mama ke BP mau nonton Laskar Pelangi yang akhirnya pulang lagi ke rumah karena kehabisan tiket, mama mendapati bahwa blsiter tersebut sudah ditusuk sama Eyang Kung pake jarum yang sudah disteril......Gubraaks...

Antara kesel dan miris liat penderitaan Dika, mama tetap merawat luka itu dengan penuh cinta dengan memberikan betadine....Alhamdullilah hari ini sudah mau kering.....

Cepet sembuh ya gandung.....

Kamis, 28 Agustus 2008

JANGAN CAMPUR VAKSIN TUNGGAL

Berawal dari informasi dari salah satu member milis perihal kosongnya sediaan combo Dpat+HIB dibeberapa rumah sakit, salah satu dokter member dimilis memberikan informasi bahwa Vaksin tunggal boleh dicampur jadi satu sebelum disuntikan, contohnya Infanrix sebenarnya bisa digabung dengan hiberik sebelum menyuntik.

Dari diskusi terdahulu saya mendapati bahwa Vaksin tunggal tidak boleh dicampur terlebih dahulu sebelum disuntikan. Dan kemarin Mba Ria, bunda Wati memberikan informasi yang sangat melegakan buat para orangtua. Selamat membaca yah


1. Informasi Pertama
Dari: najwa safina
Tanggal: 27 Agustus 2008 13:19
Subjek: Re: [sehat] Info Vaksin combo DPT & H
Ke: sehat@yahoogroups.com

dear dokter a****

tidak semua vaksin DPT bisa digabung begitu saja dengan Hib. Malah untuk kehati hatian sebaiknya tidak mencampur kedua jenis vaksin tersebut dalam satu spuit. Karena kan semuanya sudah dkemas dan diproses sedemikian rupa dari pabriknya.

lagipula tidak ada yang salah kok dengan imunisasi simultan.

2. Informasi kedua
2008/8/27 tristanathan 

waaah...
bukannya gak boleh menggabungkan 2 vaksin berbeda dalam 1 suntikan dok?
kecuali memang sudah dibuat sebagai vaksin combo dari pabriknya sana?

http://www.cdc.gov/vaccines/recs/vac-admin/providers-role-vacc-admin-storage.htm
Vaccine Storage and Administration

To achieve the best possible* *results from vaccines, carefully follow the recommendations for storage, handling, and administration found in each vaccine's package insert. Here are other steps you can take to help ensure vaccine safety:

· Inspect vaccines upon delivery and monitor refrigerator and freezer temperatures to assure maintenance of the cold chain.

· Rotate vaccine stock so the oldest vaccines are used first.
· Never administer a vaccine later than the expiration date.
· Administer vaccines within the prescribed time periods following reconstitution.
· Wait to draw vaccines into syringes until immediately prior to administration.
· Never mix vaccines in the same syringe unless they are specifically approved for mixing by the Food and Drug Administration (FDA).
· Record vaccine and administration information, including lot numbers and injection sites, in the patient's record.

· If errors in vaccine storage and administration occur, take corrective action immediately to prevent them from happening again and notify public health authorities.
http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/appendices/appdx-full-d.pdf
When administrating multiple vaccines, NEVER mix vaccine in the same syringe
unless approved for mixing by FDA. If more than one vaccine must be
administrated in the same limb, the injection sites should be separated by
1-2 inches, so thay any local reactions can be differentianted.

mmm... kalau gini, analogi-nya mirip sama puyer dong? :(
obat yang udah dicampur dari pabrik, kan beda dg puyer yang dibuat di apotik.

-ria-

2008/8/27 a*******o

> Maksudnya sebulum disuntikkan, sediaan DPaT dan HIB dicampur dulu,
> sehingga suntiknya jg cuman sekali. Untuk cara yang ini sediaan vaksin cukup
> banyak kok, dari pada gak jelas2 kapan ada lagi yang gabungan. Mungkin
> harganya juga sama tuch?
>
>

3. Informasi Ketiga
From: tristanathan 
Date: 2008/8/27
Subject: Re: [sehat] Info Vaksin combo DPT &
To: sehat@yahoogroups.com

mmm...
barusan coba googling, dan dapet statement dr medscape, katanya gak boleh...

http://www.medscape.com/viewarticle/413928

Mixing Infanrix With Hiberix
*Question*
Many pediatricians administer *Infanrix* with *Hiberix* by injecting the * Infanrix* vaccine into the *Hiberix* vial before administration. Does this change the efficacy of the vaccines from their separate administrations?

* Response from Russell W. Steele, MD, FAAP * Professor and Vice-Chairman, Department of Pediatrics, Louisiana State University Health Sciences Center, New Orleans, and Division Head, Clinical Department of Infectious Diseases, Children's Hospital, New Orleans,
Louisiana.

The practice of simply taking vaccines and mixing them together in the same syringe should never, ever be done. Such a practice is likely to result in a significant reduction in protection of children who receive vaccines in this fashion and may result in unusual adverse reactions. Such a combined product must be carefully studied prior to supporting such a practice.

dan juga dari web resmi si produsen kedua vaksin....

http://www.gskvaccines.com/Infanrix/Faq.html#18

Q: * Are there special requirements for administering INFANRIX?*
A: INFANRIX should be administered by intramuscular injection. It should not be administered in the gluteal region; such injections may result in suboptimal response. The vaccine must be shaken vigorously to obtain a homogeneous, turbid, white suspension. Do not use if resuspension does not occur with vigorous shaking. INFANRIX should not be mixed with any other vaccine in the same syringe or vial. Immunosuppressive therapies, including irradiation, antimetabolites, alkylating agents, cytotoxic drugs, and corticosteroids (used in greater than physiologic doses), may reduce the immune response to vaccines.

salam,
-ria-

2008/8/27 a******o  


> Mohon maaf sebelumnya, Untuk Infanrix sebenarnya bisa digabung dengan
> hiberi k sebelum menyuntik seperti sediaan combonya InfanrixHiB, hehehe
> terpaksa nyebut merk

4. Informasi Keempat
Dari: Purnamawati
Tanggal: 28 Agustus 2008 07:53
Subjek: Re: [sehat] Info Vaksin combo DPT & H
Ke: sehat@yahoogroups.com

Samsul and all
thanks atas pertanyaannya supaya lebih jelas kan ya

intinya .. semua vaksin tunggal TIDAK boleh digabung oleh dokter/bidan/perawat

Beberapa contoh vaksin tunggal (aduh banyak euyy... apa perlu ya hehehe Intinya minta brosur dan kotak vaksin sebelum anak disuntik dan tolak pencampuran vaksin)

Contoh: hep B (Engerix B, Euvax B, hep B nya biofarma); DPT (DPT biofarma, DaPT dalam merek Infanrix), HiB (Hiberix, Act HiB) dst dst

Jadi .. sebelum disuntik bawa catatan diskusi
1. tanyakan apakah vaksin yang akan diberikan vaksin kombinasi atau tunggal
2. Minta brosur dan kotaknya sebelum disuntik

itu dulu ya
wati

5. Informasi Kelima
Dari: Purnamawati 
Tanggal: 28 Agustus 2008 07:48
Subjek: Re: [sehat] JANGAN CAMPUR VAKSIN TUNGGAL ... was Info Vaksin combo DPT & H
Ke: sehat@yahoogroups.com


Dear Dr A**** and all

thanks buat sharing kalian semua ... perihal vaksin combo vs imunisasi simultan vs bolehkah mencampur vaksin tunggal satu dengan lainnya

Mohon maaf, jelas mencampur vaksin tunggal satu dengan lainnya TIDAK diperbolehkan dan TIDAK dibenarkan Apapun merek vaksinnya

Misalnya ... Infanrix (DaPT) tidak boleh dicampur dengan Act HiB atau Hiberix Dst dst dst

Jadi pilihan kita harus terbatas dua:
1. Menggunakan vaksin tunggal dan diberikan secara simultan (tergantung kebutuhan bisa 2 - 4 suntikan per kunjungan)

2. Mempergunakan vaksin combo (dari pabriknya sudah diproses sebagai vaksin combo misalnya:
Infanrix-HiB; TetractHib [DPT-HiB]; DPT-HepB nya Biofarma Pentacell meski vaksin combo .. masih dipertanyakan penggunaannya di Indonesia karena polionya dalam bentuk in jeksi [IPV] sedangkan Indonesia belum bebas polio

Catatan: vaksin combo DaPT-HiB jangan diberikan pada imunisasi dasar [imunisasi dasar adalah imunisasi pada usia 2, 4, 6 bulan]  Vaksin combo ini berikan di usia 18 bulan

Maaf singkat dulu ya
get back to u all later

wati


Ayo...mommies and dads.....
Belajar yuuk untuk lebih smart untuk anak-anak kita.
Jangan melulu manggut-manggut.
Ayo cari bahan sebanyak mungkin untuk berdiskusi dengan dokter anak kita, biar kita bisa membangun komunikasi yang bermanfaat bagi anak kita


* Mumpung datang pagian dan sempet nulis.

Kamis, 03 Juli 2008

Health services: Stools, fools and fungus

Pagi ini, baca email mba Ria di milis AFB ( juga ada dimilis sehat, thanks to Bunda Wati ), Sangat menarik untuk dibaca.


Ayo ayah, bunda kita belajar lebih banyak tentang kesehatan anak.

"SELAMAT MENIKMATI "

*******************************************************************

From: tristanathan 
Date: 3 Jul 2008 09:13
Subject: [asiforbaby] [Artikel] Health services: Stools, fools and fungus
To: asiforbaby@yahoogroups.com

pagi moms.. dads...

sedikit melenceng dari masalah asi nih.. semoga gak dijewer mods... :)

artikel dibawah sangat menarik buat dibaca, ada beberapa point yang menarik sekaligus menyedihkan.

* pemberian AB yang tidak diperlukan mencapai 87 persen di negeri tercinta ini :(

* alasan yang dikemukakan oleh para dokter tentang 'over-prescription' ini, dari 3 yang diutarakan salah satunya adalah SIKAP PASIF pasien, yang mengganggap bahwa dokter tau yang terbaik! :(

yuk belajar lagi, biar anak2 kita, tidak perlu mengalami over-prescription hanya karena sikap orangtua-nya yang pasif. they deserve the best!

keep breastfeeding,
-ria-

*************************************************************************************
http://www.thejakartapost.com/news/2008/07/02/health-services-stools-fools-and-fungus.html

Health services: Stools, fools and fungus

Julia Suryakusuma ,  Jakarta   |  Wed, 07/02/2008 10:53 AM  |  Opinion

Earlier this year I took myself and my nasty, persistent tummy problem to the doctor. After listening distractedly to my symptoms for a few minutes, he scribbled on his pad, prescribing antibiotics, without bothering to take any stool samples. Desperate to get better, I didn't argue and just gulped down the pills as quickly as I could. That night I felt even worse. I sms-ed him to ask what was up? His answer: perhaps I needed psychoanalysis.

Hello? Where did that come from? I agree there was a need for analysis, but at the other end of me, please!

Luckily, I got better on my own, but when my tummy started playing up again recently, I made sure I tried out a new doctor. This one was a big improvement. Much younger, he refused to prescribe antibiotics until all the proper tests were done. In the meantime he gave me medication to alleviate the symptoms and I struggled along until the next day, when the results of the lab tests came back. Turned out the culprit was fungus, and if I had been given antibiotics, it would have reduced the cash in my pocket, but not the bug in my belly.

Later, talking to Dr. Wati from the YOP (Yayasan Orang Tua Peduli, Foundation of Parents who Care -- www.sehatgroup.web.id), an NGO dedicated to building a better health community, I discovered that even a stool sample may not have been necessary. Unless there's blood (a sign that there's an amoebic infection), diarrhea is often a self-limiting disease, just like flu and cough, sore throat and fever. That means the symptoms need to be alleviated, yes, but the disease itself often doesn't need treatment. With diarrhea, the most important thing is preventing the patient from becoming dehydrated.

But that doesn't stop doctors handing out antibiotics like candy, despite effects that are much more dangerous than the original disease! Hadi, my former driver, is a case in point. He regularly pops a few antibiotics before staying up all night to watch a soccer match. This, he used to tell me, was "as prevention, so I don't get sick".

I was horrified. I tried to tell him as calmly as I could how ABs should be used, that they should be taken as a cure in fixed dosages over a prescribed number of days, and only when you are already ill enough to need them. "If you fail to do so, you build a resistance, Hadi", I said, "and then when you really need it, it won't work for you anymore!"

The truly worrying thing is that there are many more Hadis out there, and their cumulative drug-munching habits are building a community of antibiotic-resistant people who cannot be easily treated when they fall sick, because their bugs are super-resistant. That's why I called Hadi a krupuk (shrimp or sago cracker): just like crispy, crunchy krupuk that becomes limp when exposed to air and moisture, he wilts easily, falling sick frequently and taking a long time to bounce back. Are we becoming a nation of limp krupuks due to excessive and irresponsible drug-consumption?

Indonesia is now rife with IRUD: Irrational Use of Drugs. Unfortunately, the inappropriate, ineffective and economically inefficient use of pharmaceuticals is more common than not in the world, with between 52 and 62 percent of all antibiotics prescribed in developing countries being unnecessary. And Indonesia is one of the worst culprits: here the percentage is a staggering 87 percent, according to a YOP survey! Yes, 87 percent!

Hardly surprising, though. What, with increasing economic, social and even environmental pressure and the hand-to-mouth existence of the majority of Indonesians, it is little wonder that most resort to shortcuts and take refuge in the belief that "there's a pill for every ill" so they can get on with the daily business of survival.

Unfortunately, polypharmacy (prescribing several drugs at the same time for conditions that don't require it) and over-prescribing are also very widespread. One common problem is the practice of powdered drugs (drug compounding) for children with minor health problems like, yes, fever, flu, cough or diarrhea.

In most countries around the world, the administering of poly-pharmacological drugs has been reduced to only 1 percent of all drugs, but in Indonesia levels remain much higher. One example: there is a private hospital in the city of Tangerang (20 kilometers west of Jakarta) that still churns out 130 forms of compound drugs on a daily basis to feed the hungry hordes of Hadis.

Doctors cite three main reasons for over-prescription of antibiotics, lack of confidence being the first. Many doctors feel reluctant to tell a patient that he or she doesn't need antibiotics, for example when their illness is caused by a virus that antibiotics cannot treat, because most patients just won't believe them.

The second reason is the passiveness of patients, many of whom unquestioningly believe that the "doctor knows best". Indonesia is still a largely patriarchal society, and so the "doctor is god" belief remains deep-seated: There are not enough patients who are prepared to assess whether the medication prescribed for them is really what they need.

The third reason is "company pressure", from pharmaceutical companies and sales staff who ply the doctors with free samples which are then sometimes dispensed to patients. The doctors also get perks in the form of business trips, conferences and even cars from these drug companies! It's outright bribery!

It boils down to the market right? So, let's stop being fools about stools and start making sensible decisions about our own health, rather than allowing dopey doctors and money-mongering pharmaceutical companies to drug us until we are sicker -- and poorer -- than before we went to the doctor!

The writer is the author of Sex, Power and Nation. She can be contacted at jsuryakusuma@gmail.com



Senin, 09 Juni 2008

19 .....lebih keren khan....




















Dika 17 Nov 2007, 23 kg


Hahhhhhh......serius bu ?
Cuma itu yang mama ucapkan waktu Eyang ti ngasih tahu berat badan Dika sekarang.

19 kg...Anak mama bener-bener melangsing sekarang....Gak kayak dulu....Ndut


Bulan Maret yang lalu nimbang masih di 21 kg, pasca sapih Dot dan lebih banyak aktifitas membuat lemak - lemak itu gak bersarang lagi ditubuh Dika.

Yang heran...tetangga masih aza komen....
Dika sekarang kurus ya.... kok bisa kurus sich...emang gak dikasih susu lagi...

So what gitu loch....anak-anak gw...mo gw apain khan terserah gw....

Sehat terus ya ndung....
Doa Mama and Papa untukmu selalu




Dika 9 Juni 2008, 19 kg


Selasa, 13 Mei 2008

Be Rational or Not be Rational....


Halah...sok puitis dech.....
Seneng banget akhirnya bisa kembali kesini....

Dah seminggu lebih gak memberi khabar dan berkunjung kerumah teman-teman....maaf khan ya......Semoga temen-temen sehat semua ya....

Minggu kemarin emang minggu yang berat dan menegangkan......
Meskipun gak berakhir dengan gedabrukan paling gak dah selesai.... (maaf ya gak bisa cerita).


MInggu lalu Batpil sedang melanda rumah kami.
Dika yang pertama diikuti eyang uti, minggu ini Mbah Uti, mama and papa ketularan juga, sementara Dika & eyang uti juga belum sembuh.

Ini kali kedua Dika Batpil tanpa Obat...mudah-mudahan lancar.
Soalnya minggu kemarin sempet adu mulut saya mbah kung yang kekueh mengharuskan Dika ke dokter, katanya kalo emang gak punya duit biar Bapak yang bayarin,...... (bukan karena gak punya uang, tapi karena menghindarkan dika dari obat-obat yang tidak diperlukannya)

Sedih memang melihat beberapa anggota keluarga kita gak bisa serasional kita, meskipun begitu aku, papa dan eyang mau gak mau terpaksa menjalankan strategi ini, mulai Rabu - Jumat lalu Dika langsung diantar ke rumah mama sama Eyang, kalo dah gini biasanya Mbah Kung jadi sungkan sama eyang (hehehe) dan dengan terpaksa membawa Dika kemanapun kami pergi pada Week End ini.

Trik itu lumayan berhasil sih....tapi kasian sama eyang....jadi harus sampe malam jagain dika dirumah dan jadi kasian sama Mbah karena jadi gak bisa ketemu Dika....maafin ya Pak....Daripada anakku dikasih Obat or dibawa ke dokter sama Bapak, mendingan aku melakukan hal ini.

Sampe hari ini Dika masih batuk, tapi sesekali saja, umumnya lebih sering di malam hari kadang sampe muntah....yo wis gak papa emang sudah seharusnya Ia muntah, aku gak khawatir disini...

Yang kukhawatirkan adalah minggu ini jadwal Dika sudah kembali seperti semula, Pagi -sore dirumah Eyang, Sore sampe kami pulang dirumah Mbah, aku takut Dika kecolongan Obat, soalnya Mbahnya suka Nekat banget....

Mudah-mudahan semua berjalan sesuai rencanaku....Be Rational....

Selasa, 25 Maret 2008

Kenapa ya...?

Udah seminggu ini Dika suka terbangun kalo malam hari, sekitar jam 2,3 atau jam 4 pagi. Disaat terbangun ini Dia nangis dan bilang mau ikut, mau ikut mama, mau ikut papa, tapi digendong gak mau, diajak bobo lagi juga gak mau, mesti agak lama ngerayunya baru mau digendong dan biasanya dia ngajakin keluar karena gak percaya kalo masih malam.Kalo dah diajak keluar biasanya dia baru diem dan ceria seperti biasanya, gak langsung tidur lagi karena biasanya kita mainan dulu (mama & dika, kalo papa balik tidur lagi).

Ternyata pas cerita sama Eyang, katanya kalo siang juga suka begitu, lagi mainan ech tiba-tiba nangis trus bilang mau eyang, mau ikut papa kerja, mau ikut mama kerja, eyang palingan memberikan sedikit pengertian dan dika mau main lagi. Tapi gak nangis kayak malam hari.

Hari minggu lalu, dika kami urut ke tempat om Hari, katanya cuma karena kecapean saja, malamnya bisa tidur nyenyak, tapi semalam gitu lagi.....duh kenapa ya Dikaku ???


Rabu, 05 Maret 2008

Blognya Bunda Wati

http://purnamawati.wordpress.com/
sama kayak sisil ...ketinggalan juga nich...

Baca dech...bagus banget....tentang kesehatan anak....

Senin, 03 Maret 2008

Campuk Aduk

Dua Minggu ini memang minggu-minggu berat buat Dika, beberapa waktu lalu Ia Diare, belum pulih banget, dari Jum'at lalu Batpil...Duh kasihan banget ngeliatnya.

Secara Dika masih lumayan aktif ( kenapa lumayan, karena sesekali maunya digendong aza), tapi kalo aku yang dirumah Dika biasanya main sendiri, minta gendong sesekali aza. selebihnya masih seperti biasanya.

Karena Batpil, otomatis dia muntah kalo batuk....duh ini yang bikin aku gak tega....kasihan mukanya mpe merah padam, air matanya keluar....kalo dah gini dia akan bilang udah mah, udah mah....tambah sedih banget ngeliatnya.

Sebenarnya pengin banget dirumah nemenin dia, kalo dah gini pengin banget jadi FTM. Tapi....demi sesuap nasi dan segepok berlian , mau gak mau harus berangkat juga ke tempat kerja .

Soalnya kalo sama aku, dia mau minum susu & makan ( meskipun dipaksa sedikit), kalo sama eyang ti & mbah ti, duh susahnya, yang ada kalo gak mau makan or minum susu, ya udah daripada nangis. yang ada jadinya lemes. Jadi aku pingin banget nemenin dia dirumah.

Untunglah Mbah Kakung beliin dia Hot Wheels, meskipun sakit tapi dapet hadiah....makasih ya kakung.

Dika...
Cepet sembuh ya chayang...
Ayo donk mau maem, mimi susu, maem es krim, deelel
biar cepet sembuh ya Nak...
Biar bisa jalan-jalan lagi....

We you,......always..............

Senin, 18 Februari 2008

Deman Berdarah or Radang Tenggorakan

Sesiangan ini lagi senyum-senyum sendiri baca beberapa subject email di milis Sehat, Deman Berdarah or Radang Tenggorakan, Demam Berdarah, Diare, deelel.

yang bikin aku heran, kenapa ya beberapa DSA selalu meminta pasiennya untuk periksa darah untuk menghilangkan kecurigaan DB padahal terang-terang pasiennya dateng keluhannya cuma Demam or Batpil, kalopun demam ya sewajarnya kalo dah 72 jam ya periksa urin. Kalo dah gini, gak salah juga sich kalo orangtua pasien menjadi cemas ( mungkin gak berlaku buat member milis Sehat ) karena yang bilang harus periksa darah khan DSA.....DSA gitu loch.....

Secara Dikaku juga lagi Diare....perhari ini sudah kutingkatkan statusnya.....karena  mulai jam 5 pagi ini s/d jam 5 sore ini dah 6x, dan sudah cair tanpa ampas, 2 hari yl masih lembek....

Yang jadi kekhawatiranku cuma Dehidrasi, secara Dika lagi susah minum susu dan minum air putihnya juga harus diingetin, untuk makannya ya sekedarnya ( mungkin mulutnya dan perutnya lagi gak enak), tapi alhamdullilah eyang terus cekokin oralitnya meskipun sedikit-2, behaviournya masih baik. Jadi aku gak terlalu khawatir.

Aku cuma berharap besok pagi keadaan Dika dah membaik, agar intake cairan bisa sempurna.... Mohon doanya.....



Rabu, 23 Januari 2008

Hore ......berhasil

Hari Sabtu yang lalu (19.01.08) saya berhasil Catch Up imunisasi Simultan Dika (DPT+HIB-yang demam, MMR, Hep A, Typoid) di Markas Sehat dengan dr. Apin.

Rencananya pengin imunisasinya di DSA Dika ( di RS dekat rumah ), sebelumnya sudah SMS Beliau menanyakan kesediaan Beliau untuk Catch Up Imunisasi dan minta yang Simultan, tapi Beliau gak sedia yang combo dan untuk simultan Beliau akan lihat kondisi Dika dulu, baru diputuskan bisa atau tidak.

Mau coba hunting lagi, tapi gak punya HP DSA yang lain ( karena selama setahun ini hanya DSA tersebut yang kami kunjungi ) dan jika harus datang langsung tapi kalo akhirnya gak bisa simultan rasanya kok rugi. Selain itu waktu luang saya dan suami gak banyak ( hanya bisa Sabtu Sore dan Minggu) jadi kami putuskan untuk langsung ke Markas Sehat saja ( sepertinya kok gak mau susah ya).

Beberapa hari sebelum datang ke Markas, saya email ke dr. Apin untuk Imunisasi Simultan Dika, tapi dibalas by SMS ( trims ya dok, maaf ganggu waktunya), Beliau menginformasikan agar Imunisasinya langsung 4 suntikan (teng...teng..teng, kok banyak betul ),  akhirnya saya tanya lagi 2 aza ya dok boleh khan, gak tega nich ?,  kata Beliau, boleh saja.

Cerita sama eyangnya dika mengenai 4 suntikan tersebut, kata Beliau gak papa, sekalian aza, tegain aza, paling nangisnya sebentar kok, lagian kan tempatnya jauh, gak papa dech, bismillah aza, insya Allah Dika kuat ( trims ya bu, untuk supportnya).

Tiba pada hari H, hampir gak jadi ke Markas, papa dika baru sampai rumah jam 4 sore, sementara saya judah buat janji jam 5 sampe di Markas, akhirnya berangkat juga jam 4.30 sore dari rumah, sampai di Markas jam 5.30 sore, udah ada 2 pasien di ruang tunggu, 1 pasien di Ruang dokter, jadi totalnya 4 pasien (+ dika).

Tapi ternyata lama banget, jam 7 malam dika dah rewel, mungkin sudah bosen dan ngantuk ( biasany jam 7 dah tidur). Akhirnya jam 7.30 dika dipanggil juga, setelah menceritakan riwayat kesehatan dika, dr. Apin menanyakan jadinya 2 atau 4 suntikan, mendingan ditegain aza, daripada Ibu harus bolak – balik, mandang eyangnya Dika dulu ( minta persetujuan ), akhirnya kami memutuskan untuk 4 suntikan. Bismilillah semoga tepat keputusan kami.( kenapa gak tanya papanya dika - soalnya papa milih gak ikut, nunggu di ruang tamu aza, ngantuk,  payah dech, sambil geleng-geleng, akhirnya dipanggil juga untuk megangin dika)

Karena dika badannya gede, makanya harus dipegangin pada saat disuntik (he,he,he), papa diatas, saya dibagian bawah, akhirnya jusss, 4 vaksin masuk ke badan ( di tangan kiri, tangan kanan, paha kiri, paha kanan), dika gak nangis ???? gak mungkin, la wong mau dibuka bajunya ada dah nangis, apalagi mau diperiksa.

Sebelum pulang dr. Apin membekali kami informasi reaksi apa saja yang akan timbul setelah imunisasi ini, dan bagaimana kami harus menyikapinya.

Ternyata reaksi demam gak muncul pada hari 1-2 (reaksi DPT+HIB),  Alhamdullilah, padahal saya dah sedikit cemas. Tapi ternyata Dika juga ceria-ceria aza, malah tambah aktif. Sehingga bekas suntikan ditangan kanannya bengkak (sekitar 2 cm) dan memerah, sempat khawatir juga, cepet – cepet telp dr. Apin (maaf dok ganggu lagi), kata Beliau gak papa itu hanya reaksi lokal (mungkin karena dika banyak bergerak), paling lama 1-2 minggu dah hilang, dikompres saja pake air hangat.   Ternyata bengkaknya cuma 3 hari saja, gak sempat dikompres soalnya begitu kapas or waslap nempel dika langsung jerit atau bangun kalo lagi tidur.

Reaksi MMR yang mungkin akan timbul 7 hari setelah Vaksin, mudah – mudahan juga gak ada, kalaupun ada, insya Allah saya sudah tahu apa yang harus saya lalukan, kalaupun saya gak tahu, saya yakin docs dan SPs dimilis Sehat akan membantu saya.

Terima kasih untuk Mba Ria (untuk email dan SMS-nya), Sisil, milis sehat, dr. Apin, bunda wati, Pesat Tangerang untuk semua pengetahuan yang sangat berharga buat saya dan keluarga saya.

Tambahan, seperti yang saya ketahui beberapa kali dimilis ini selalu membahas vaksin ini dengan autis, saya hanya ingin share bahwa beberapa waktu yang lalu saya mengetahui bahwa anak tante saya (sekarang 7 thn) menderita autis dan Ia bercerita bahwa sewaktu balita ia tidak memberikan vaksin MMR (juga tidak HIB) karena takut anaknya jadi autis (tapi tanpa MMR ataupun HIB anaknya ternyata Autis).

Mohon maaf, sharing saya mungkin terlalu panjang, tapi mudah – mudahan bisa bermanfaat untuk SPs yang akan memberikan imunisasi simultan kepada putra – putrinya. Saya merasakan tidak ada efek yang buruk dari imunisasi simultan ini (insya allah) karena ternyata lebih efisien baik di cost, waktu dan juga dika sudah mendapatkan haknya.

Selasa, 13 November 2007

Naik Lagi nich....

Hmm, hari ini nyoba nimbang badan lagi, udah lama gak pernah nimbang badan, eiiit ternyata naik 2 kilo, mungkin gara - gara gak pernah terapy lagi. Terakhir terapi ke Anmo Peter Chung di Fatmawati bulan Juni, itupun berhenti karena Dika sakit trus aku juga ikutan sakit plus kerjaan dikantor lagi overload jadi gak sempat-2 ke sana - sana lagi ( padahal dah turun 7 kilo sejak mulai terapi). Ada yang bisa bantu gak ya, nurunin berat badan tapi gak ngabisin waktu and terutama kantung ( ini yang paling penting, he, he, he)

Senin, 29 Oktober 2007

25 Oktober 2007 - Terakhir Minum Obat

Akhirnya tanggal 25 Oktober yang kami tunggu datang juga, hari itu adalah hari terakhir Dika minum obat Flex yang sudah 9 bulan menemani pagi hari kami.

Seneng banget akhirnya rutinitas yang sangat membosankan ini berakhir juga, mungkin Dika juga berpendapat yang sama.

Selamat tinggal Rimactane, Beniziadize ( bener gak yach ) sama PZA.

Semoga Dika tambah sehat, pintar, terus beraktifitas dan sayang Papa & Mama