Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2012

Ikhlasku


Akhir-akhir ini saya baru saja menyadari bahwa lebih dari setahun terakhir saya belum melepas energi marah saya, yang membuat saya dengan gagah keluar dari arena itu.

Setengah diri saya belum bisa menerima rasa sakit yang saya derita, saya berada dipersimpangan. Saya masih sebal dengan perlakuannya, tapi saya juga memaafkannya.

Tapi secara ga sadar, hal itu bikin saya merugi, karena saya jadi ga ikhlas belajar. Jadi jadi defensif, saya jadi ahli denial, saya membaca dan mendengarkan bahkan setuju, tapi saya juga mengingkarinya.

Saya sungguh bosan dengan keadaan ini
Rasanya sudah saatnya saya jadikan sejarah, sudah saatnya saya mulai remidi untuk lebih ikhlas khususnya pada kondisi saya saat ini.

Melewati km 63,
Saya bertekad, saya ga ingin jadi orang merugi lagi
Saya ingin ikhlas,


Kamis, 23 Agustus 2012

{SB} - Berdamai dengan Masa Lalu


barusan buka milis SB, dan mandek di trit tentang berdamai dengan masa lalu
plus agak jeder sama kalimat ini :

copas
Dulu kalo ada temen yg kesel ato ada yg bikin aku kesel, aku emang ga komen ato bertindak apapun, tapi suka bilang "Biarin aja, biar Tuhan yang membalas"
Seriiiiing bgt bilang begini.
Sampe temenku yg anak theologi bilang "Dy, Tuhan punya segala sifat baik-NYA, jangan minta Tuhan untuk berbuat tidak baik dan membalaskan dendammu. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pemaaf dan Pengampun. Sesungguhnya kamu itu yang maha mendendam, sehingga memaksa Tuhan berbuat tidak baik"

*glek*
Astaghfirullah...
duluuuuu sekali waktu masih belum ketemu papih pernah juga berkata-kata seperti ini kalo lagi keseel sama orang lain, dan ketonjpok sam kalimat papih yang mirip-mirip seperti itu

Beberapa kali denger orang-orang terdekatku bilang seperti ini, tapi yaa itu khan urusan mereka...

Ya Allah,....
mohon jauhkanlah diriku dari segala buruk sangka pada diriku dan juga orang lain
Amin


Rabu, 18 April 2012

Rinduku


Rindu itu adalah
Ketika angin berhembus
Ketika music berdendang
Ketika melihat sekelebat namamu
Ketika lirih mendengar suaramu
Ketika membaca surat-suratmu

Tuhan, izinkan kami bertemu 1 menit saja meski dalam mimpi

Miss you dear...


Selasa, 31 Januari 2012

Si 35


Wah ga terasa, tahun ini usiaku akan 35 tahun, ini batas aman untuk memiliki anak kembali.

Ga terasa juga, hampir 1 tahun sejak aku harus kuretase karena janinnya Blighted Ovum.

Bila hingga akhir tahun ini kami belum juga berikan rezeki memiliki anak, saya n papih akan menunggu hingga 2-3 tahun lagi.

Tapi bila dalam 2-3 tahun lagi belum juga mendapat karunia ini, Alhamdullilah kami berdua sepakat untuk mengadopsi bayi.

Jangka waktu ini tidaklah mutlak, kalo kami diberikan kesempatan mengadopsi bayi lebih cepat, kami akan sangat bersyukur.

Mohon doanya ya temans


~selalu ada warna yang indah diakhir pelangi~

Kamis, 19 Januari 2012

Empty


Feeling so empty
I don't know why
Need more time to be recovery


tentang kosong
1. kosong dlm KBBI (kamus besar bahasa indonesia) th 2008 bermakna tdk berisi, berongga, tdk bergairah, hampa, tdk mengandung arti. #gestwit

2. kosong merupakan kepedihan hati, hsl persekongkolan antara perasaan, fantasi, dan harapan yg berakar pd kecemasan yg melemahkan.#gestwit

3. kosong dlm kaidah ilmu perilaku mengacu pd pekatnya larutan emosi negatif yg memicu rasa tdk berdaya krn kehilangan arah kiblat.
#gestwit

4. kosong biasanya menunjukkan pengalaman depresi, akibat kesulitan yg
bertumpuk, bertubi-tubi, berlarut-larut, shg tdk terkendali. #gestwit

5. kosong potensial tjd pd org yg sifat dasarnya cenderung depresif,
entah berupa bth menjamin keamanan, ataupun bth mengendalikan. #gestwit

6. kosong juga dpt tjd akibat konsep diri yg rapuh-destruktif krn penanaman nilai moral yg scr sistematis memasung dan memperbudak. #gestwit

7. kosong perlu dipahami sbg gangguan mental yg serius, shg sebaiknya jg diperhatikan scr serius, agar risikonya bisa diantisipasi. #gestwit

8. kosong dpt dikelola dg teknik lokalisasi, bila sgup hidup sbg aktor yg menampilkan karakter “kosong” itu hanya saat ‘jam kerja’. #gestwit

9. kosong sebaiknya dituntaskan, dg cara merenovasi konsep diri yg terlanjur rapuh-destruktif itu, agar bisa mjd sehat-konstruktif.
#gestwit

*thanks for share this note


Powered by Telkomsel BlackBerry®

{Story}-Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan

Nice story...dari berbagai milis
Tuk mengingatkan, tuk memberiku semangat untuk tidak menyerah pada keadaan.

Dika,
Mamih love you

*******************************************

Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 10 Januari 2012

@Padang






Hoaaaam dah malam yaaa
Baru abis ngobs tentang rencana pertemuan besok sama bosku diteras kamar

Bentaran siiih
Tapi setelah selesai ngobs, masih harus urus2 bahan presentasi besok
Gpp deh daripada besok pagi gedabrukan

Peruuuut kenyaaang banget, tadi makan di tepi laut diiringi deburan ombak yang kuencaaang banget bikin kaget2 pas baru2 denger

Eh melilit juga nih, tadi abis makmal
Ngerjain presentasi dulu sama temenku sambil minum juice terong pirus
Terlalu asam sepertinya

Posting ga penting nih,
Intinya sih lagi coba kirim posting pake email
Huhehehehe

Rabu, 20 Juli 2011

Bibit

Bersosialiasi dengan sesama kita
Itu adalah hakikat kita sebagai seorang manusia
Memang butuh waktu untuk bisa saling memahami karakter satu sama lain

Terkadang,
Ada kalanya apa yang kita rencanakan indah diawal
tidak semulus bayangan kita
kerikil-kerikil tajam bisa saja menjadi gangguan buat suatu hubungan

Seperti tanaman,
Bibit yang buruk ..... akan terseleksi oleh alam
Bibit yang bagus...... akan terus tumbuh ranum
Tidak, tidak
Saya sedang tidak menuliskan tentang saya
tapi ini adalah cerita tentang orang terdekat saya
Di usia muda pertemanan dengan rekan bisnisnya yang baru
kami memiliki seorang teman yang awalnya cukup dekat ( dia suka curhat tentang A-Z bisnis yang sedang kita rintis bareng)

dan belakangan ternyata kami baru menyadari
Bahwa temen itu banyak sekali berbuat ketidakadilan buat kami
Namun....
Kebencian yang ditanam oleh rekan bisnis itu, tidak membuat orang terdekat saya "layu"
Ia tetap berjalan dengan keyakinannya
bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan
dan kejahatan akan berbuah kejahatan

Jadi, 
Apapun yang Ia lakukan, menyebar fitnah, mengadu domba, membuat status-2 makian
Kami tidak akan membalasnya
saat ini kami hanya akan menebar bibit yang baik
agar bibit ini menjadi tanaman yang bisa mengayomi kami semua

daaaaan............kami yakin pasti akan indah pada waktunya......

*chayoooooo* 











--
~selalu ada hal istimewa diakhir pelangi~
http://www.swahyuni.multiply.com

Jumat, 15 April 2011

Sometimes people defend themselves too hard to cover their mistakes without realizing that it makes them looked even more guilty

{ME} - Perjalanan 12042011


Hari Selasa yang lalu seharusnya saya kembali ke Jakarta dengan GA 163 jam 09.15, namun bos saya meminta saya kembali pagi karena ada hal-hal yang harus kami diskusikan dan persiapkan dalam menghadapi negosiasi tanggal 14-04-2011 yang akan datang.

Akhirnya setelah timbang sana dan timbang sini, serta bos saya mengizinkan saya pulang setelah semua berjalan di kantor, saya ganti penerbangan saya menjadi GA 161 jam 06.30 pagi tanggal 12042011.

Malam itu, saya masih menerima tamu di teras hotel saya sampai hampir jam 11 malam, karena saya baru kembali ke hotel jam 9 malam setelah menyelusuri kota Padang di malam hari (wiskul + beli kaos CH buat dika).

Tepat jam 5 pagi saya berangkat dari hotel Padang..... hmmm dingin sekali pagi ini..... jam 5.30 saya telah check in di Minangkabau International Airport dan langsung masuk ke ruang tunggu.

Jam 6.10 kami dipersilahkan untuk naik ke pesawat, saya gak sempet ngecek type pesawat yang saya naiki tapi sepertinya bukan B 737-800.

Duduk di first row memang selalu menjadi pilihan buat saya, karena saya ingin segera keluar dari pesawat begitu tiba di airport tujuan dan lebih kepada kepuasan pribadi saja sih :).

Sambil menunggu penumpang berdatangan, saya terkantuk-kantuk membaca koran. semua penumpang sudah ditempat. Saya sudah mengambil permen yang ditawarkan, demo keselamatan di udara juga sudah dilakukan.
Tiba-tiba saya berasa gerah, tangan saya arahkan ke AC, hmmm gak ada udara yang keluar, dan sebelah saya juga mengatakan yang sama. Mata Saya mengikuti pramugari yang berjalan ke arah kokpit pesawat dan melihat mereka berbincang, dan terdengar, " AC-nya dimatikan dulu", bla, bla, bla ( gak terdengar lagi, karena penumpang dibelakang saya udah mulai kasak kusuk.

Tiba - tiba tercium bau gak enak, hmm seperti bau terbakar, gak lama kemudian, seorang penumpang dari arah belakang berteriak....... " kebakaran, pesawat ini kebakar, sontak kami semua segera melepaskan seat beat yang telah terpasang dan semua penumpang berhamburan keluar termasuk saya tanpa membawa koper saya keluar ( gak kepikiran untuk tarik karena situasi yang cukup heboh).

Saya dan beberapa penumpang berada di apron, sementara beberapa penumpang sudah berada di ruang tunggu kembali. Seorang penumpang mengajak saya untuk mengambil bagasi yang tersimpan di cabin pesawat. setelah izin ke petugas dan diperbolehkan untuk mengambil koper kami. Saya masuk dan menemukan tidak ada kebakaran dalam pesawat, awak pesawat menginformasikan bahwa ada sedikit masalah pada AC dan pembuangan asap yang seharusnya keluar ternyata tidak berfungsi sehingga asap masuk ke kabin.
Saya kembali ke ruang tunggu, telpon-2an dengan papi, bos dan beberapa teman, akhirnya saya putuskan untuk ikut pesawat kedua saja yang sudah fix keberangkatan daripada menunggu pesawat ini diperbaiki.

Ternyata...... bukan hanya saya yang berpikiran seperti itu, setengah penumpang berada di tempat yang sama, mengantri kepindahan pesawat ke GA 163. Suasana begitu rusuh, banyak penumpang yang mengeluh dan marah-marah.

Apa yang saya lakukan, menunggu giliran sambil senyum-senyum menyaksikan pemandangan di counter check in. Penumpang marah karena petugas tidak sigap melayani kami, keluar masuk ke ruangan dan tidak menambah konter lain untuk membantu perpindahan kami.
Saya mengerti bahwa si petugas harus bolak balik karena harus memastikan bahwa sistem di check in connect dengan bagasi yang sudah berada di pesawat GA 161, namun yang disayangkan harusnya Ia dibantu petugas lain untuk kroscek bagasi sementara Ia bisa fokus untuk membatalkan check in GA 161 dan mencheck in-kan ulang ke GA 163.

Suasana tambah riuh ketika pengumuman GA 163 akan segera take off, semua penumpang teriak, termasuk saya yang mengkomplen penumpang lain yang menyerobot antrian kami lewat samping.

Akhirnya 16 penumpang termasuk saya tidak mendapatkan seat di Ga 163, beberapa ngomel-ngomel karena gak terima dan minta dipindahkan ke flight lain yang jam penerbangannya gak jauh dari jam 9, penumpang agak tenang setelah manager GA datang dan menenangkan kami. Ada Lion Air jam 10 dan 12.45 dan keduanya penuh, atau Batavia jam 1 siang, semua dicadangkan dulu.

Saya kordinasi dengan bos saya, saya bilang saya akan ambil Garuda jam 14.10 WIB karena saya lebih nyaman berangkat dengan Garuda dan saat itu keberangkatan dengan Flight lain masih tentatif. Bos setuju dan saya melaporkan perpindahan saya ke GA 165 jam 14.10.
dan tanpa saya sangka-sangka, Garuda memberikan saya dan kompensasi berupa Voucher Executive Lounge "Anugerah" dan uang tunai Rp. 315.000, sehingga saya bisa leyeh-leyeh di lounge dan sedikit terbebas dari pekerjaan kantor pagi hari dan mendapatkan teman ngobrol yang asyik di pesawat.

Ternyata ketika saya tetap bersyukur saat saya mengalami kejadian hari itu, Allah memberikan balasan yang sungguh manis kepada saya.

**** anda dapat bersyukur tatkala tertimpa masalah, karena justru disitulah tersimpan potensi rezeki, kesempatan 'naik kelas" dan hikmah berharga**** dari buku 7R-.
 

Selasa, 05 April 2011

{2nd Pregnancy} - Akhirnya (2)

Melanjutkan cerita tentang kehamilan kedua-ku yang pernah di publish disini

Rasanya seperti mimpi,
ketika pada saat aku menulis hari ini, aku tidak lagi hamil....tidak ada janin di rahimku, tidak ada gangguan hormon yang menyenangkan.... :)

Tanggal 27 Pebruari 2011
Udah beberapa hari ini aku batuk, ketularan virus dari dika, hari itu aku gak kemana hanya di rumah saja karena memang lagi gak fit kondisinya. Sorenya ketika aku mandi, aku mendapati bercak darah di celana dalamku.... paniiik, banget.... lapor ke temen-temen di BBG, dan disarankan untuk istirahat dan coba untuk tidak batuk terlalu keras

Tanggal 28 Pebruari 2011
Kontrol ke Kemang Medical Centre, ketemu dr Ridwan, hasil cek lewat USG Trans Vaginal tidak ditemui pendarahan di seputar rahim, Panjang janin 1.5 cm, usia janin 5w3D, pendarahan pada kehamilan muda memang biasa terjadi, bila tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan Janian akan tumbuh dengan sempurna sampai Lahir. Disarankan untuk bedrest selama 3 hari, dan konsul kembali tanggal 7 Maret 2011.

Tanggal 7 Maret 2011
Kembali kontrol ke KMC, pendarahan masih terjadi namun frekwensi dan kuantitinya tidak banyak. Kembali di USG Trans Vaginal. Dan ternyata........
"Ibu, Janin Ibu tidak berkembang, usia janin masih terlihat 5W3D, panjang janin masih di 1.5 cm ", dhuaaaaaar... berasa kejatuhan tembok yang beratnya berton-ton.

dr. Ridwan mengatakan bahwa bila proses pembuahan tidak sempurna maka akan terseleksi alam, caranya dengan keluar sendiri atau melakukan kuretase.

Kami tidak bisa putuskan langsung hari itu karena belum menyiapkan kondisi ini ketika berangkat dari rumah

Tanggal 14 Maret 2011
Setelah konsul ke beberapa teman dan juga bunda, saya putuskan untuk 2nd opinion, ada 2 dsog yang saya tuju, yaitu dr. Azen di RSPI atau dr. bambang karsono di YPK Menteng. dan sungguh sulit mendapatkan jadwal konsul kedua dsog tersebut. Tuhan memang maha baik, aku mendapat jadwal konsul di dr. Bambang di Klinik Moegni tanggal 14 April setelah 2 kali berganti jadwal karena dapat jam 11-12 malam terus

Hari yang kutunggu-tunggu, aku izin dari kantor pas jam makan siang untuk ke klinik ini. Diantar oleh papi, kami berdua sudah siap bila ternyata diagnosis yang akan kami terima sama dengan sebelumnya.

Setelah nunggu hampir 2 jam, aku memasuki ruang praktek dr. Bambang, hmmm dokter yang ramah...., aku terangkan ke Beliau bahwa kami sedang 2nd opinion atas diagnosa yang kuterima dari DSOG sebelumnya. Dan setelah di lakukan USG Trans Vaginal, beliau menginformasikan :

Bu, Bapak, masih ada pendarahan yang terjadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan dalam rahim Ibu, Janin ini tidak berkembang, jadi sebaiknya kuretase segera dilakukan. karena sudah dipastikan ini Blighted Ovum.

Malamnya di rumah, mbah Kung bilang, coba 3rd opinion satu kali lagi, kalo memang ternyata hasilnya sama ya sudah, cepet kuretase. Saya n Papi setuju untuk 3rd opinion. Hal ini kami lakukan agar tidak ada keraguan bagi diri kami dalam mengambil keputusan bila ternyata kuretase harus dilakukan.





Tanggal 15-April-2011
Kami berencana untuk 3rd opinion hari Rabu ke DSOG lain, tapi ternyata keadaan gak berpihak padaku, seharian aku merasakan kontraksi yang sangat menyakitkan ditandai keluarnya darah yang cukup banyak. Setelah ngobrol sama papi, mba Ria dan Ida, kami putuskan untuk 3rd opinion malam ini juga. Kami pilih ke Rumkit terdekat dari rumah kami, dan pilih dokter yang sudah cukup berpengalaman.

Jam 9 malam kami masih antri di Rumkit Bakti Asih, karena memang mendaftar dinomor buncit. Hasil konsul dan periksa dsog, beliau juga menyatakan BO dan harus segera kuretase, Jadwal Kuretase bisa besok pagi atau sore hari. Bila mau ambil besok pagi, boleh nginap di Rumkit karena mulai malam ini sudah pasang alat di rahim (Laminaria). Kami putuskan untuk menginap agar bisa kuret pagi dan  pulang siang hari.

Tanggal 16-Mei-2011
Tepat jam 10.00 pagi proses kuretase dilakukan (telat 2 jam dari waktu yang dijanjikan), proses kuretase hanya 30 menit, jam 12 tepat aku sudah tersadar dengan kesadaran penuh, berasa kelaparan dan kehausan... begitu bangun bahagia rasanya ada Mbah, Eyang, Papi, Dika (dluar), tante dan omku serta iringan doa dari temen-2ku.

Tidak ada kesedihan,
karena aku yakin ini yang terbaik yang kami lakukan
Singkat memang mami mengenalmu dan menjagamu nak...merasakan indahnya bersamamu....
tapi yakinlah..... mami - papi mencintamu....


love
-5042011/mami4laras-

Selasa, 08 Februari 2011

{2nd Pregnancy} - Akhirnya

2 Pebruari lalu baru ngeh, ternyata aku udah 8 hari telat dari jadwal haid yang terakhir.
karena telat haid s/d 1-10 hari udah biasa buatku, makanya gak pengin buru-buru untuk tespek.

Tapi ada segerombolan emaks yang mendorongku untuk tespek....
hmmmmm antara yakin dan gak yakin sih, tapi tetep ke apotik untuk beli tespek, smepet bingung waktu ditanya petugas, mau beli yang mana..... yang murah or yang mahal.... hehehe, pilih yan murah donk, soalnya kalo negatif khan gak rugi....(dasar pelit ah)

Udah lama gak tespek, degdegan juga sih.
tralaaaaaaa ternyata tespek pertama "garis 2", kucek-kucek mata gak percaya nih....
ambil tespek kedua, tralaaaaa hasilnya sama

antara kaget, bersyukur dan akhirnya nangis terharu
bangunin papi, bangunin dika.... kasih liat hasil 2 tespek tersebut....

papi langsung bilang alhamdulillah, selamat ya mih buat kita bertiga, trus mendaratkan ciuman dipipi dan pelukan hangat....

dika...... aku cuma bilang, dika bentar lagi punya adik ... dika seneng gak ?
seneng mih...seneng....adik dimana....peyut mamih ya.....hoyeee.... trus meluk aku

ah tambah bahagia karena dapat pelukan ketiga, keempat, kelima dst dari orang-orang yang kucinta.

akhirnya...... selamat datang masa kehamilan
semoga aku nyaman menjalani masa-masa ini....
semoga kami bertiga dan calon adik akan semakin asik dalam membina relasi..... amin

Minggu, 09 Januari 2011

memilih

Jika persabahatan dengan percintaan hanya boleh memilih salah satu ?

Maka saya memutuskan untuk tidak memilih melepaskan keduanya.

Sabtu, 08 Januari 2011

(share) - My Special Son

alam ini ketika saya menemani papi bekerja didepan kompi, saya tertarik membaca salah satui trit email di milis sehat.

Betapa tulisan ini sangat berarti buat saya, membuat emosi saya teraduk-aduk, membuat saya menangis lirih.

Ya Allah, terima kasih kau anugerahi dika kepada kami, kami akan sekuat tenaga menjaga n membimbing Andika.

********

My special son

Virginia, Januari 2006

Dikutip dari buku : My Special Child oleh Meidya Derni dkk

/Hidup ini adalah ujian.

Kesenangan, kesulitan, kegagalan, dan kesuksesan semua adalah bentuk ujian-Nya. Ujian untuk bisa menentukan manakah di antara umat-Nya yang beriman dan berserah sepenuhnya hanya kepada-Nya./

Saya adalah ibu empat orang anak yang saat ini tinggal di Norfolk,Virginia, Amerika Serikat. Sebagai seorang wanita, saya diberi-Nya keluasan rezeki dengan kemudahan untuk hamil.

Akan tetapi tidak demikian halnya dengan perjalanan saya untuk menjadiseorang ibu. Ada kehilangan, perjuangan, dan doa­-doa panjang di sana.

Proses kehamilan putra-putri saya memang tidaklah terlalu mudah. Demikian juga setelah saya menjadi seorang ibu. Rasa bahagia, duka, kelegaan, dan kekhawatiran dalam membesarkan dan merawat anak-anak meninggalkan jejak-jejak yang mendalam di hati saya. Terutama dalammendampingi putra ketiga saya, Afzhal, yang didiagnossa menderita autis.

Sebagai seorang ibu kadang terasa begitu pedih menyaksikan buah hati yang mengalami perkembangan berbeda dari anak-anak lainnya. Kepekaannya yang melebihi anak-anak lain dalam beberapa hal, merupakan derita yang harus dia rasakan sendiri dalam dunia kesendiriannya. Karena kondisi dirinya yang membuatnya mempunyai ketergantungan yang tinggi kepadabantuan orang lain, bahkan untuk melakukan hal yang paling sederhana sekalipun, seringkali membuat hati saya seperti tersayat-sayat. Ada waktu-waktu tatkala saya hanya bisa menangis kepada-Nya dan memohon agar saya diberi-Nya kesabaran yang tak berbatas, supaya saya bisa selalumemberikan yang terbaik untuknya.

Saya membuat tulisan ini tiada tujuan lain kecuali agar pengalaman saya bisa menjadi hikmah dan memberikan ibrah serta manfaat kepada siapapun yang membacanya. Semoga.

Tanda-tanda awal

Perjalanan keluarga kami dalam dunia Autisme dimulai sekitar empat tahun yang lalu, yaitu ketika anak kami Afzhal divonis dokter autis. Autisme atau biasa d.isebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) adalah gangguan perkembangan fungsi otak yang kompleks dan sangat bervariasi (spektrum).

Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi tara berkomunikasi,berinteraksi sosial, dan kemampuan berimajinasi.

Ketika Afzhal berumur 0-6 bulan, dia baik-baik saja, pertumbuhan dan perkembangannya normal, dia tumbuh menjadi bayi yang sehat qan lucu. Dia mempunyai kulit yang putih bersih dengan matanya yang indah, rambutnya yang hitam, tebal, dan lembut bak sutra, serta tentu saja senyumnya yang menawan. Pokoknya dia tampan, manis, dan imut. Kalau saya sedang ke taman atau ke grocery store, kadang saya harus berhenti untuk menerima pujian dari orang-orang yang kebetulan melihatnya. Aih ..., dia memang bayi yang mempesona.

Pada waktu umur 6 bulan, kami sekeluarga pulang ke Banda Aceh untuk bersilaturrahim dengan orang tua dan saudara. Sebulan sesudah kami berada di sana, berat tubuh Afzhal menurun karena dia menolak untuk makan (waktu itu saya baru memperkenalkan makanan padat padanya). Rewelnya muncul dan juga masalah alergi mulai timbul.

Dua bulan kemudian, kami kembali ke USA. Selama perjalanan yang panjang dari Jakarta ke Virginia yang lebih dari 24 jam, Afzhal hanya menangis tanpa henti. Dia tidak mau disusui dan sangat stres dengan perjalanan tersebut. Sebenarnya, bukan hanya Afzhal yang stres, seluruh anggota keluarga yang lain juga demikian.

Segera, setelah kami sampai di rumah, Norfolk, saya menelepon dokter anak. Ketika saya bilang, Afzhal punya tanda-tanda dehidrasi, seperti, tidak keluar air mata ketika menangis, kulitnya akan berbekas jika ditekan oleh jari, kantung matanya menyusut ke dalam, dan lain-lain.

Dokter anak itu menyuruh saya membawa Afzhal ke rumah sakit segera.

Sesampai di rumah sakit CHKD (Childrefl's Hospital of The King's Daughter), dokter memeriksanya secara intensif. Para dokter sangat khawatir karena saya baru saja pulang dari perjalanan ke luar negeri yang menempuh separuh Bumi. Bermacam-macam tes mereka lakukan. Di antaranya, spinal tes (ini sangat menusuk-nusuk perasaan saya).

Saya merasa kasihan kepada Afzhal yang waktu itu sudah sangat kurus. Apalagi dia harus ditusuk tulang belakangnya, agar mereka bisa mengambil cairan dari punggungnya. Cairan tersebut di bawa ke laboratorium, untukmengetahui apakah ada bakteri atau virus di dalam tubuhnya. Alasan mereka, kita bisa bertini::lak cepat seandainya ada sesuatu yang berbahaya di dalam sistem tubuhnya sebelum menuju ke otak. Waktu itu, Afzhal menangis (walau sudah tidak keluar lagi air matanya dan dia sangat lemah), tapi saya bisa lihat kalau dia sangat kesakitan. Sesudahtes spinal selesai, tes berikutnya adalah CT scan, kemudian USG (ultrasonografi).

Sebenarnya, saya tidak setuju dengan tes-tes yang mereka lakukan. Saya pikir (perasaan ibu) Afzha! tidak apa-apa. Dia hanya kurang cairan tubuh saja. Namun, tim dokter ingin sekali memastikan kondisi Afzhal yang sesungguhnya. Apalagi, kami baru saja datang bepergian dari Indonesia. Katanya, dalam pesawat banyak virus berkeliaran. Sesudah tiga hari di rumah sakit, mereka menyatakan bahwa berdasarkan hasil tes anak saya tidak mempunyai masalah dalam tubuhnya. Semua hasil tes menunjukkan negatif. Hari itu juga, mer,eka memperbolehkan anak saya pulang.

Hanya beberapa minggu sesudah itu, Afzhal mulai rewel lagi. Masalah tidurnya mulai muncul lagi (susah untuk tidur, mudah bangun lagi ketika tidur, dan tidak mau tidur lagi). Setiap malam menangis. Saya berusaha melakukan apa pun untuk mencoba menenangkannya, tetapi tidak berhasil.

Terlebih suami yang seorang karya siswa di sebuah Universitas di Virginia, seringkali pergi ke kampus pada malam hari untuk melakukan risetnya dengan alasan di ruangannya pada siang hari sangat berisik. Otomatis, setiap malam saya sendiri yang menjaga Afzhal.

Pernah suatu malam, Afzhal menangis tiada henti, sementara saya sudah sangat lelah dan mengantuk. Tetapi, Afzhal terus saja menangis. Lalu, saya ambil bantal dan saya lemparkan ke sudut ruangan sambil menjerit,"1 can't take this anymore!" Yah, benar, saya benar-benar frustrasi. Sayapun jadi ikut menangis. Tak tahu harus meminta tolong kepada siapa.lngin sekali memanggil Mamak atau adik atau saudara-saudara yang lain. Tapi, itu tak mungkin. Di mana mereka? Mereka ada di negeri yang separuh Bumi jaraknya dari tempat saya tinggal sekarang. Beginilah nasib hidup di negeri orang ... ingin rasanya saya menjerit dan meminta berhenti saja, tetapi hidup terus berjalan.

Hari-hari berlalu, keadaan Afzhal tak kunjung membaik. Afzhal semakin susah makannya. Akibatnya, berat badannya tak kunjung naik. Oia pun seringkali terkena infeksi telinga, tambah rewel, dan seringkali tantrum. Setiap kali infeksi telinga yang ditandai dengan panastinggi, tangisnya tiada henti. Untuk memberikan obatnya atau memakaikan baju atau menyikat giginya, atau mengganti popoknya, pasti membutuhkan dua orang untuk mengerjakannya. Apalagi, pada saat yang bersamaan, saya pun hamil "Iagi". Subhanallah! It took everything I had to keep up with him and survive each day.

Di sebelah apartemen saya, tinggal sepasang suami istri dari Korea,mereka mempunyai dua orang anak kecil, yang umurnya hampir sama dengan Afzhal. Kalau saya amati perkembangan anak tersebut dibandingkan dengan Afzhal, jauh meninggalkan Afzhal di belakang. Padahal, seingat saya ... waktu umurnya 0-6 bulan, ibunya sangat iri dengan perkembangan Afzhal.

Bagaimana ini bisa terjadi? Sebenarnya, saya tidak mau membandingkan antara anak dia dengan anak saya karena setiap anak tumbuh dan berkembang dengan berbeda.

Ketika anaknya berumur 10 bulan, anaknya sudah bisa jalan. Sedangkan Afzhal baru berdiri sambil berpegangan di kursi. Ketika berumur 11bulan, anaknya sudah bisa bilang bye-bye. Sedangkan, Afzhal; kalaudilambaikan tangan oleh abangnya, dia hanya diam saja tanpa ekspresi.

Kalau kami ke taman, anak teman saya tersebut sangat senang bermain pasir dan berlari mengejar abangnya. Sementara itu, Afzhal tidak mau menyentuh pasir. Yang dia mau hanya bermain ayunan berjam-jam, jika diajak pulang dia akan menangis histeris.

Kalau saya bawa ke masjid, selalu tantrum, mungkin dia melihat bermacam-macam orang di sana dan sangat ribut. Oia menyukai tempat yang tenang, yang tidak banyak orang. Jadilah, saya tinggal di rumah setiap saat. Saya jarang pergi ke halaqah di masjid, dan menghindari tempat-tempat ramai. Saya menjadi tahanan di rumah sendiri!

Melewati umur 15 bulan, kekawatiran saya semakin parah. Belum ada satu kata pun keluar dari mulut Afzhal. Memang pernah dia babbling "Mama ...Mama ... Baba ... beberapa kali, tapi sayup-sayup lenyap. Pada umur 16 bulan, dia juga pernah bisa main komputer. Dia bisa memegang mouse dengan baik, dan bisa memilih menu (waktu itu saya pakai software readerRabbit untuk toddler). Dia bisa menggunakannya, tetapi beberapa bulan kemudian, tidak bisa lagi.

Mencari Jawaban

Mulailah perjalan saya mencari jawaban, mengapa Afzhal berubah jadi anak yang sangat payah seperti ini. Sekadar informasi, anak saya yang nomor dua, Ahmad, juga mengalami masalah bicara (speech delay), dan dia pernah di Early Intervention Program juga. Karena pengalaman dengan anak kedua saya tersebut, saya semakin ketakutan melihat perkembangan Afzhal saat itu.

Bertepatan dengan 18 bulan pemeriksaan rutin, saya utarakan kekhawatiran saya kepada dokter. Kebetulan dokternya sama juga dengan dokter anak-anak saya sebelumnya, Ahmad dan Abram, dia juga khawatir dengan perkembangan Afzhal. Segera dia menghubungi Early Intervention Program, dan juga memberikan nomortelepon mareka untuk saya. Juga dia memberi referral untuk neurologist dan development specialist. Tidak ketinggalan janjian dengan audiologist.

Hari berikutnya, saya langsung menghubungi Early Intervention Program. Mereka sudah membuat jadwal pertemuan dengan kami. Early Intervention Program ini adalah program pemerintah untuk anak-anak yang diketahui ada tanda-tanda keterlambatan. Biasanya keterlambatan dalam hal bicara,keterlambatan fisik dan perkembangan mental. Singkatnya, setelah dievaluasi oleh M-Team (Multidisciplinary Team) di Early Intervention Program (Norfolk Infant Program) tersebut, mereka memberi label untuk Afzhal: "Significant Delay", sehingga Afzhal berhak mendapat terapi wicara dan terapi okupasi seminggu sekali, juga seminggu sekali ikut gymboree group di Center.

Sebenarnya, setelah M-Team mengetuk palu dengan putusan "significant delay", perasaan saya sangatcampuraduk. Oke, sekarang anak saya sudah ada label, terus kita sudah bisa menentukan intervention apa yang pas untuk dia, dan IFSP (Individual Family Service Plan) bisa segera dibuat.

Tapi, perasaan saya mengatakan anak saya lebih dari sekadar label itu. Janji bertemu berikutnya kami lakukan adalah dengan Audiologist. Seorang sahabat saya menyarankan untuk pergi ke audiologist dulu, sebelum melangkah ke ahli-ahli yang lain. Siapa tahu Afzhal ada sesuatu dengan pendengarannya. Setelah dilakukan tes, hasilnya tidak ada masalah dengan telinganya. Rupanya, kecurigaan teman saya tersebut tidak terbukti.

Lalu kami bertemu dengan dokter saraf. Hasil pengamatan si dokter tersebut, Afzhal global delay. Dia juga melakukan tes darah yang disebut fragile X syndrome test, yaitu tes utk melihat kelainan kromosom di dalam darah Afzhal. Selain fragile X test, anak saya juga harus melalui EEG (Electroencephalogram). Hasil tes tersebut datang 2 minggu sesudah
saya bertemu dengan dokter, dan hasilnya semuanya negatif. Alhamdulillah.

Jalan berikutnya, yang kami lakukan adalah ke dokter Development Pediatric Specialist. Ini dokter yang paling dingin perasaannya yang pernah saya jumpai dalam hidup saya. Sesudah dia mengamati anak saya beberapa sa at, dia datang memberi putusan dengan kata-kata yang sangat menyakitkan perasaan saya, "Autism", "mental retardation", "severe delay", etc. Perasaan saya . hancur, remuk, sedih, dan tentu saja marah.

Bagaimana mungkin dia berkata seperti itu kepada anak saya yang sangat berharga ini. Kata-katanya sangat menyakitkan. Cepat-cepat saya melangkah keluar dari tempat praktiknya. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, di dalam mobil yang dikendarai suami saya,tiada hentinya air mata ini mengalir. Ya Tuhan, anak saya divonis autis,mental retardation, severely delay.

Sejuta harapan dan impian yang sudah mengalir dalam dada ini, sejak detik pertama saya tahu dia berada dalam rahim ini pun sirna. Harapan untuk mempunyai anak-anak yang saleh, anak- anak yang cerdas, seketika lenyap. Impian saya adalah, saya ingin semua anak-anak saya sukses disekolah, di masyarakat, menjadi pemimpin umat, menikah, sukses di dalam kehidupannya, dan sebagainya.

Serasa tubuh ini begitu lemah, hilang rasanya semangat hidup ini, yang ada hanya memikirkan nasib akan masa depan anakku. Oh, Ya Allah, why me? Kenapa Engkau memilih saya. Kenapa Engkau memilih saya sebagai ibu untuk anak spesial ini. Astagfirullahaladziim, ampunilah saya, ya Allah.

Kenapa saya mempertanyakan takdir-Mu dan mengugat-Mu karena Engkau telah memberi cobaan ini untuk kami? Bukankan saya sudah tahu tidak ada sedikit pun kesukaran bagi-Mu untuk berkehendak (muridan) terhadapsesuatu bagi ummat-Mu yang Kau cintai.

Terngiang-ngiang kembali perkataan dokter tersebut di telinga ini,bertambah deras lagi air mata ini mengalir. Hanya kabut duka yang mengisi hari-hari selanjutnya di rumah kami, sampai saya sadar itu memang sudah takdir-Nya. Pada saat itu, saya teringat dengan ayat di surah Yaasin yang setiap malam Jum'at saya lantunkan: innamaa amruhu idzaaaraada syai'an anyakula lahu kun fayakun (sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "jadilah"! maka jadilah ia) Ya Allah, ses ungguhnya kami adalah hamba-Mu, ubun-ubun kami dalam tangan-Mu, berlakulah atas kami hukum keputusan-Mu dan adillah . atas kami takdir-Mu.

Ya Allah, engkaulah yang menyembuhkan, tak ada obat selain obat-Mu. Obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Yang berkat kekuasaan-Mu ada obatnya. Sembuhkanlah anak kami, ya Allah .... Sembuhkanlah buah hati kami ...!

Operasi Penyelamatan Afzhal

Segera setelah Norfolk Infant Program (Early Intervention Program) merampungkan ISFP (Individualized Service Family Plane), yaitu semacam kurikulum yang yang di dalamnya berisi step by step plan mengenai prioritas apa yang hendak dicapai oleh si anak, kelebihan dankekurangannya, dan lain-Iainnya. Petugas terapi wicara, terapi okupasi, dan petugas edukasi mengimplementasikannya kepada si anak. Pada waktu itu, Afzhal menerima 60 menit per minggu dari masing-masing terapi tersebut.

Ada satu hal yang sampai saat ini amat saya sesalkan, adalah ketidaktahuan saya kalau kami bisa meminta sebanyak mungkin jam terapi kepada early intervention, daripada cuma dapat satu jam per minggu,mungkin Afzhal akan lebih cepat sembuh.

Setelah Afzhal berumur tiga tahun, dia tidak berhak lagi mendapat servis dari early intervention program, dia ditempatkan di special preschool.Pertama dia ditempatkan di kelas regular (multi handicap). Setiap hari, Afzhal pulang ke rumah dengan jidat yang biru. Pada saat itu, dia sudah semakin sering membenturkan kepalanya ke lantai (head banging). Karena muridnya 15 orang, sementara guru cuma dua orang, otomatis perhatiannya tidak bisa selamanya untuk Afzhal.

Saya protes keras ke kepala sekolah. Saya minta Afzhal segera dipindahkan ke kelas anak-anak autis. Tentu, prosesnya tidak mudah seperti membalik telapak tangan. Banyak rangkaian proses yang harus saya alami, sampai berantem melalui telepon dengan salah seorang karyawan departemen pendidikan di City Hall. Terakhir, saya baru tahu karena diberitahukan oleh seorang guru, biaya yang harus dibayar oleh Norfolk Public School untuk SECEP Program (sekolah khusus untuk anak autis) adalah 28.000 dolar/ tahun. Alhamdulillah atas kemudahan yang diberikan-Nya, Afzhal bisa mendapatkan program tersebut.

Setelah Afzhal ditempatkan di kelas SECEP, saya berpikir Afzhal akan segera memperlihatkan perkembangannya. Rupanya, tunggu punya tunggu, perkembangan bicaranya tidak ada, begitu juga keterampilan-keterampilan yang lain yang sudah tertulis di IEP (Individualized Education Plan) sangat lambat tercapai. Sampai akhir tahun, saya "menjerit lagi". Mungkin pendekatannya tidak sesuai, kata saya kepada guru di sana.

Setiap buku yang saya baca, semuanya menyebutkan kalau one-on-one denganmenggunakan ABA (Applied Behavior Analysis) modification work best. Tetapi, mereka tetap pada sistem PECS (Picture Exchange CommunicationSystem) dan TEACCH (Treatment and Education of Austistic and Related Communication Handicapped Children) yang digunakan. Akhirnya, saya mencari segala cara agar Afzhal bisa mendapatkan ABA program ini.

Dari beberapa ternan yang sering bertemu di pertemuan parent support group, saya mendapat kabar kalau Norfolk Service Board mempunyai dana (grant) untuk behavior intervention. Melalui Afzhal service coordinator yang bertugas di sapa, saya mengutarakan keinginan saya ini.

Alhamdulillah, walau ada liku­liku dalam usaha ini, grant tersebut turun juga, 30 jam per bulan, dan per jamnya 75 dolar. Mana bisa kami yang seorang karya siswa membayarnya, seandainya kami harus membayarnya sendiri. Alhamdulillah atas kemudahan yang Engkau berikan, ya Allah,kami bisa mendapatkannya.Keterlibatan yang lain, yang kami lakukan untuk menolong Afzhal adalahmenggunakan biomedis (biomedical intervention). Afzhal mendapatkan perawatan biomedis ini, melalui Dr. Mery N. Megson, di Richmond, Virginia. Karena dokter ini, tidak menerima asuransi yang kami gunakan, otomatis biayanya keluar dari kantong sendiri. Pertemuan pertama dengan si dokter kami harus membayarnya sebesar 600 dolar, belum termasuk konsultasi dengan ahli nutrisi, dan membeli bermacam-macam suplemen.

Tapi, lagi­-lagi Allah memberi jalan kepada kami. Setelah beberapa bulan kami menggunakan BI ini, Afzhal akhirnya mempunyai pendapatan sendiri lewat SSI (social security income), yang besarnya hampir setengah gaji ayahnya. Alhamdulillah. Sampai sekarang dia. masih menerima suntikan B12 yang saya suntik setiap malam kepadanya, vitamin A, dan aneka obat-obatan lainnya.

Afzhal Saat Ini

Afzhal baru saja merayakan ulang tahun kelimanya. Alhamdulilah sudah banyak kemajuan yang dicapai setelah dia mendapatkan ABA (Applied Behavior Analysis) terapi ini, diet cf/gf (Casein free/gluten free), dan BI (Biomedical Intervention). Setiap perkembangan, walau sekecil apapun, kami sambut dengan rasa syukur kepada­Nya. Tanggal 8 Januari 2006 yang lalu, merupakan hari yang tidak pernah saya lupak n. Saat saya duduk sendiri, tiba-tiba dia datang menghampiri saya, menatap mata saya dalam-dalam, pandangan kami beradu, dia memanggil saya "Mama". Saya peluk dia kuat­kuat, saya cium dia, air mata haru mengalir di pipi.

Terima kasih, Afzhal. Terima kasih sudah memanggil saya Mama. Saya tahusaat itu akan datang. Semakin hari semakin banyak alphabet sound yang bisa dia ucapkan, b, m,p ,d, I, up ,on, more, mami, baba, dada, dan lain lain. Dia sudah bisa matching dalam 2-3 objek. Sudah mau duduk di tempat dalam 10 menit, sudah mau datang kalau dipanggil. Interaksi dengan abang-abangnya sudah semakin sering.

Jalan yang yang harus kami tempuh bersama Afzhal memang masih panjang dan berliku. Perjuangan masih harus diteruskan. Dan saya bersyukur atas segala kepercayaan yang telah diberikan-Nya.

We enjoy our son where he is no we celebrate the gains that have been made no matter how smallthey seem. Amanah-amanah-Nya, yaitu permata-permata hati yang menjadi cahaya hidup saya. Hanya permohonan yang selalu saya panjatkan kepada-Nya, supaya selalu diberi bimbingan dan kekuatan agar bisa menjaga amanah-amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Inilah senandung yang selalu akrab di telinga Afzhal yang saya nyanyikan menjelang dia tidur:

You ore verv special
Oleh: Zain Bhika

You are very special
There's no one just like you
Created by the master Allah created you
You are very special
Exclusively designed
You are very special
And I'm so glad you're mine
You were made by Allah
He fashioned your heart
You were made by Allah
He knew you .from the start
You were made by Allah
Unique in all your ways
You were made by Allah To praise him all your days
Bright little eyes He gave you
To help you find your way
May Allah grant them wisdom
To see you through each day
You are very special
There's only one of you
You are very special
And remember I love you
What ever life will bring you
What ever you will bear
Remember your creator
Allah is always there
And when your world is crumbling With pain and darkness too
Just look into your heart Allah is there for you

*ditulis ulang, ciledug 080111

Rabu, 29 Desember 2010

menjelang 2011

ya ya 2 hari lagi menjelang tahun 2011.

tidak punya resolusi tertulis untuk tahun ini
hanya ingin membulatkan tekad untuk " Fokus " pada setiap yang akan aku lakukan di tahun 2011 apapun itu bentuknya.

so.....
let's enjoy our life
with more happiness and love

~shin~